BMKG Prediksi Fenomena El Nino Segera Aktif dan Bertahan hingga Awal 2027

Published on

JAKARTA, LinkPapua.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino segera aktif di Indonesia. Fenomena itu berpotensi bertahan hingga awal 2027 dan membuat musim kemarau tahun ini lebih kering dari kondisi normal di sebagian besar wilayah Indonesia.

“Anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur telah melewati batas netral selama lima dasarian. BMKG memprediksi fenomena El Nino akan segera aktif dan terus bertahan hingga awal tahun 2027,” ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Hasil pemantauan hingga akhir Mei 2026 menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik telah mencapai positif 1,0 derajat Celsius. Sementara indeks Indian Ocean Dipole (IOD) tercatat sebesar minus 0,56.

Berdasarkan hasil pemodelan iklim terkini, peluang El Nino berkembang menjadi kategori moderat mencapai 98 persen. Peluang El Nino meningkat menjadi kategori kuat tercatat sebesar 62 persen.

Di sisi lain, BMKG memantau potensi terjadinya fenomena IOD positif di Samudra India pada periode Juli hingga November 2026. Kombinasi El Nino dan IOD positif berpotensi memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia.

Ardhasena mengatakan dampak El Nino bersifat global. Fenomena ini memengaruhi pola curah hujan di berbagai belahan dunia dengan karakteristik yang berbeda-beda.

“Fenomena El Nino menyebabkan penyimpangan iklim di berbagai wilayah dunia, tidak hanya di Indonesia. Namun, untuk Indonesia, El Nino umumnya berdampak pada penurunan curah hujan sehingga kondisi menjadi lebih kering, terutama pada periode Juni hingga Januari,” katanya.

Menurut BMKG, peningkatan curah hujan akibat El Nino justru terjadi di wilayah Pasifik tengah hingga April tahun berikutnya. Peningkatan curah hujan juga terjadi di pesisir Amerika Latin pada Januari–Mei.

Sebaliknya, penurunan curah hujan diperkirakan terjadi di sebagian Brasil, India, dan Afrika bagian selatan. BMKG menyebut kondisi itu mengikuti karakteristik dampak El Nino di berbagai kawasan.

Seiring perkembangan El Nino, BMKG memperkirakan semakin banyak wilayah Indonesia memasuki musim kemarau dalam beberapa bulan ke depan. Pada Juni 2026, sebanyak 198 zona musim atau 31,6 persen luas daratan Indonesia diprediksi mulai mengalami musim kemarau.

Wilayah yang masuk kemarau pada Juni 2026 meliputi sebagian besar Sumatra, Kalimantan Barat, sebagian besar Banten, DKI Jakarta bagian selatan, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur. Wilayah lainnya mencakup sebagian besar Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, sebagian Sulawesi, Maluku, Papua Barat, dan Papua bagian timur.

Sementara itu, pada Juli 2026, sebanyak 66 zona musim atau 7,26 persen wilayah Indonesia diperkirakan memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut antara lain Jambi bagian barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, dan sebagian Maluku.

BMKG juga mencatat awal musim kemarau 2026 cenderung datang lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991–2020. Sebanyak 308 zona musim atau 39,7 persen luas wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau yang lebih maju dari biasanya.

Adapun 165 zona musim atau 17,03 persen diperkirakan mengalami awal kemarau normal. Sementara 113 zona musim atau 9,52 persen diprediksi mengalami kemunduran awal musim kemarau.

Wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau lebih awal antara lain Aceh, sebagian Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, sebagian besar Jambi, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, dan Lampung bagian utara. Wilayah lainnya meliputi sebagian besar Banten, DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sejumlah wilayah di Papua.

Dari sisi sifat hujan, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau di bawah normal. Sebanyak 482 zona musim atau 56,18 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami kondisi lebih kering dibandingkan rata-rata.

Sementara itu, 210 zona musim atau 43,14 persen diprediksi memiliki sifat hujan normal. Hanya 7 zona musim atau 0,68 persen wilayah Indonesia yang diperkirakan mengalami curah hujan di atas normal akibat pengaruh faktor topografi lokal.

Wilayah yang diprediksi sedikit lebih basah dari kondisi normal meliputi sebagian Bengkulu, Gorontalo bagian utara dan selatan, serta sebagian kecil Nusa Tenggara Timur. Kondisi itu berbeda dengan sebagian besar wilayah lain yang diperkirakan mengalami kemarau lebih kering.

Sebaliknya, wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau lebih kering meliputi sebagian Sumatra, seluruh Pulau Jawa, sebagian besar Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan sebagian Nusa Tenggara Timur. Wilayah lainnya mencakup sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, serta sebagian Pulau Papua.

BMKG mengimbau pemerintah daerah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air, dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan. BMKG juga mengingatkan potensi gangguan ketersediaan air bersih hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan selama periode kemarau 2026. (*/red)

Latest articles

Bupati Kaimana Lepas 107 Anggota Tim Pesparawi ke Manokwari

0
KAIMANA, LinkPapua.id – Bupati Kaimana Hasan Achmad melepas 107 anggota tim Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Kabupaten Kaimana menuju Pesparawi Nasional XIV di Manokwari,...

More like this

KPK Ternyata Selidiki Dugaan Korupsi MBG sebelum Diusut Kejagung

JAKARTA, LinkPapua.id – KPK ternyata juga menyelidiki dugaan korupsi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi...

Presiden Prabowo Sedih Copot 3 Pimpinan BGN, Ingat Pesan Ayah Berpihak ke Rakyat

JAKARTA, LinkPapua.id – Presiden Prabowo Subianto mengaku sedih usai mencopot tiga pimpinan Badan Gizi...

Kejagung Tetapkan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Tersangka Korupsi MBG, Langsung Ditahan

JAKARTA, LinkPapua.id – Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan...