MANOKWARI, LinkPapua.id – Para ilmuwan berhasil menemukan kembali dua spesies marsupial yang sempat diyakini telah punah sejak 6.000 tahun lalu di pedalaman hutan Papua Barat. Penemuan glider ekor cincin dan possum jari panjang kerdil ini mengakhiri pencarian panjang selama 27 tahun sejak petunjuk pertamanya ditemukan pada 1999 silam.
“Vogelkop adalah bagian kuno dari benua Australia yang telah menjadi bagian dari Pulau Papua,” ujar pemimpin penelitian dari Australian Museum, Tim Flannery dalam keterangannya dikutip Live Science, Kamis (12/3/2026).
“Hutan-hutannya mungkin menyimpan lebih banyak lagi peninggalan tersembunyi dari Australia masa lalu,” lanjutnya.
Wilayah Semenanjung Vogelkop atau Kepala Burung dinilai memiliki sejarah geologi sangat tua yang menjadi tempat persembunyian satwa purba. Hutan hujan terpencil di kawasan tersebut terbukti menjadi benteng terakhir bagi spesies yang sebelumnya hanya dikenal melalui catatan fosil zaman es.
Dua satwa langka ini dikategorikan sebagai ‘Lazarus taxa’ karena muncul kembali secara mengejutkan setelah menghilang ribuan tahun dari radar ilmuwan. Keberhasilan ekspedisi ini tidak lepas dari peran penting masyarakat adat yang menjaga kelestarian hutan setempat.
“Penemuan satu takson Lazarus, meskipun diyakini telah punah baru-baru ini, merupakan penemuan yang luar biasa,” kata Flannery.
“Namun, penemuan dua spesies yang diyakini telah punah ribuan tahun yang lalu, sungguh luar biasa,” lanjutnya.
Tim peneliti bekerja sama dengan para tetua lokal dari suku Tambrauw dan Maybrat untuk melacak keberadaan mamalia berkantung tersebut. Masyarakat asli bahkan menganggap glider ekor cincin sebagai makhluk suci yang wajib mendapatkan perlindungan hukum tertinggi.
Meski telah ditemukan, para ahli masih merahasiakan lokasi koordinat pasti penemuan kedua spesies unik ini. Langkah tegas ini diambil guna mengantisipasi ancaman perburuan liar serta perdagangan satwa ilegal yang menargetkan spesies langka.
“Temuan ini menekankan pentingnya menjaga kawasan bioregion unik ini dan nilai penelitian kolaboratif dalam mengungkap dan melindungi keanekaragaman hayati yang tersembunyi,” ucap Flannery dalam pernyataan tersebut.
Kelestarian habitat di Papua Barat kini menjadi sorotan dunia menyusul kerentanan spesies ini terhadap aktivitas penebangan hutan. Upaya konservasi bersama masyarakat lokal menjadi kunci utama agar ‘fosil hidup’ ini tidak benar-benar punah untuk kedua kalinya. (*/red)
