25.8 C
Manokwari
Minggu, Maret 29, 2026
25.8 C
Manokwari

Search for an article

More

    Balitbangda: Pasar Rumput Laut Wondama Sudah Terbuka

    Published on

    Manokwari,Linkpapuabarat.com-Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat, Charlie Heatubun mengatakan bahwa pasar rumput laut Teluk Wondama sudah terbuka.

    Dia berharap hasil panen di daerah tersebut terus digenjot dengan mengoptimalkan peran petani serta luas wilayah perairan yang tersedia.

    “Wilayah perairan Teluk Wondama masih sangat luas. Jika dioptimalkan kita bisa meningkatkan panen petani hingga 100 kali lipat,” kata Charlie, Senin (2/11).

    Menurutnya kondisi iklim Indonesia termasuk Teluk Wondama sangat mendukung. Penanaman dan panen bisa dilakukan sepanjang tahun.

    “Kita berada di wilayah Khatulistiwa dengan iklim tropis. Sepanjang tahun petani bisa tanam dan panen. Apalagi masa untuk panen rumput laut ini cuma 45 hari,” katanya lagi.

    Pada Selasa pekan lalu 20 ton hasil panen rumput laut petani asli Papua di Teluk Wondama dikirim ke Surabaya. Saat ini rumput laut baru dikembangkan di sejumlah kampung yang tersebar di tiga distrik/kecamatan yakni Roon, Roswar serta Rumberpon.

    Charlie berharap masyarakat pesisir di distrik lain juga mulai membudidayakan tanaman tersebut. Saat ini produksi rumput laut di daerah tersebut masih sangat kecil, sedangkan pasar sudah terbuka lebar.

    “Kendala kita ada pada petani, belum banyak masyarakat di sana yang membudidayakan rumput laut. Mudah-mudahan setelah melihat hasilnya, yang lain tergiur dan mau memulai,” ucap Charlie lagi.

    Secara keseluruhan, kata dia, produksi petani di tiga distrik ini baru berada pada kisaran 10 hingga 20 ton perpanen. Dengan luas wilayah perairan di Teluk Wondama produksi bisa ditingkatkan setidaknya mencapai 200 ton.

    Disisi lain, lanjut Heatubun, transportasi masih kendala dan membutuhkan perhatian serius dari sejumlah pemangku kepentingan.

    “Mengingat jalur distribusi sangat berpengaruh terhadap pemberlakuan harga ditingkat petani. Biaya operasionalnya imbasnya, harga di petani tertekan,” katanya.

    “Petani mendapat harga beli Rp 6 perkilo gram, sedangkan harga jual di Surabaya Rp 18 ribu. Ada kesenjangan cukup jauh karena pembeli harus menanggung seluruh biaya operasional,” sebut Charlie menambahkan. (LPB1/red)

    Latest articles

    Sinergi BPH Migas, DEN dan Pertamina Patra Niaga Pastikan Ketersediaan BBM...

    0
    SORONG, Linkpapua.id- Pertamina Patra Niaga bersama Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) dan Dewan Energi Nasional (DEN) memastikan dan mengecek langsung...

    More like this

    Gubernur Papua Barat ke Wisudawan UNCRI: Bangunlah Daerahmu!

    MANOKWARI, LinkPapua.id - Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan meminta para lulusan perdana Universitas Caritas...

    9 Tim Siap Tampil di Liga 4 Papua Barat, Dibuka 31 Maret oleh Gubernur

    MANOKWARI, Linkpapua.id- Panitia penyelenggara menggelar Match Coordinator Meeting (MCM) Liga 4 Papua Barat sebagai...

    TNI AL Gelar Penghormatan untuk 2 Marinir Gugur di Maybrat, Pastikan Hak Keluarga

    JAKARTA, LinkPapua.id - TNI Angkatan Laut (AL) menggelar prosesi penghormatan terakhir bagi dua prajurit...
    Exit mobile version