MANOKWARI, LinkPapua.id – BMKG menargetkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) membantu memadamkan titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Bombarai dan wilayah selatan Papua Barat. Namun, operasi tersebut tidak menjamin hujan terus turun setelah kegiatan dihentikan.
“Tujuannya untuk mematikan sumber-sumber titik api yang ada di wilayah Bombarai, wilayah selatan, dan sekitarnya,” ujar Kepala Stasiun Klimatologi Kelas III Papua Barat Sony Hartono saat ditemui wartawan di Bandara Rendani, Manokwari, Rabu (14/10/2026).
Sony menjelaskan OMC dilakukan dengan mengumpulkan awan agar menghasilkan hujan di wilayah terdampak karhutla. Hujan diharapkan membasahi lahan dan memadamkan titik api yang masih aktif.
Operasi tersebut hanya berlangsung selama beberapa hari dan tidak dilaksanakan setiap hari. Setelah OMC berakhir, BMKG tidak menjamin hujan akan kembali turun secara konsisten.
Karena itu, keberhasilan OMC tidak cukup diukur dari hujan yang turun selama operasi berlangsung. Pemerintah juga perlu memastikan titik api benar-benar padam dan tidak kembali menyala.
Pemantauan setelah operasi, patroli di wilayah rawan kebakaran, serta kesiapan personel pemadam tetap diperlukan. Titik api yang belum sepenuhnya padam berpotensi kembali membesar saat lahan mengering.
Sony mengatakan BMKG memprediksi Bombarai dan Kabupaten Manokwari mulai memasuki musim hujan pada akhir Oktober 2026. Hujan pada awal musim diperkirakan berintensitas ringan sebelum meningkat pada November hingga Desember.
“Di akhir Oktober ini diharapkan hujan mulai turun secara konsisten. Intensitasnya pada awalnya masih ringan, kemudian akan semakin meningkat pada November dan Desember,” jelasnya.
Meski demikian, awal musim hujan tidak otomatis memadamkan seluruh titik api di wilayah terdampak. Sebaran hujan yang berbeda antarlokasi serta bara di bawah permukaan tanah atau material organik dapat membuat kebakaran tetap bertahan.
Sony juga menjelaskan OMC di Papua Barat memiliki tujuan berbeda dengan operasi modifikasi cuaca di wilayah Papua. Di Papua Barat, operasi diarahkan untuk memicu hujan, sedangkan operasi yang dimaksudkannya di wilayah Papua bertujuan membuyarkan awan untuk mengurangi potensi hujan lebat atau cuaca ekstrem.
Menurut Sony, OMC untuk menghasilkan hujan tersebut merupakan pelaksanaan pertama di Papua Barat. Efektivitasnya bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan awan yang dapat disemai, serta keberlanjutan pemadaman di darat.
“OMC tersebut menjadi langkah intervensi cuaca untuk membantu penanganan karhutla. Tetapi, efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan awan yang dapat disemai, serta keberlanjutan upaya pemadaman di darat,” ucapnya. (LP14/red)
