MANOKWARI, LinkPapua.id – Universitas Papua (UNIPA) memfokuskan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun ini di Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel). Sebanyak 185 mahasiswa diterjunkan untuk menggarap potensi sektor pertanian hingga pembangunan infrastruktur di 15 kampung.
“Kami memfokuskan KKN di Manokwari Selatan karena pada pelaksanaan KKN sebelumnya mahasiswa telah menyisir sejumlah wilayah di daerah ini. Saat ini ada kampung-kampung yang menjadi prioritas, terutama karena adanya kegiatan yang relevan dengan tema KKN tahun ini,” ujar Kepala LPPM UNIPA, Freddy Pattiselanno, saat ditemui wartawan di Aula Utama UNIPA, Selasa (20/1/2026).
Freddy menjelaskan Mansel saat ini memiliki program pengembangan desa yang sejalan dengan misi pengabdian mahasiswa. Hal ini menjadi alasan pemilihan lokasi agar terjadi sinergi antara dunia pendidikan dan pembangunan perdesaan.
“Di Manokwari Selatan saat ini sedang fokus pada pengembangan sektor pertanian. Hal ini menjadi peluang bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dan memberi kontribusi nyata,” katanya.
Selain sektor pertanian, pembangunan sarana dan prasarana di tingkat kampung juga menjadi sasaran utama kegiatan mahasiswa. Pendekatan tematik diberlakukan agar setiap fakultas dapat memberikan solusi konkret sesuai bidang keilmuan masing-masing.
“Pembangunan infrastruktur kampung juga menjadi target agar mahasiswa KKN bisa ikut terlibat di dalamnya,” tambahnya.
Mahasiswa dari Fakultas Teknologi Hasil Pertanian, misalnya, akan membantu warga dalam mengolah hasil kebun seperti produksi minyak kelapa. Program ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya membawa teori, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.
“Setiap fakultas memiliki kegiatan tematik yang dapat diaplikasikan langsung di kampung,” jelasnya.
Ratusan mahasiswa yang dikirim berasal dari latar belakang ilmu yang beragam, mulai dari teknik, ekonomi, hingga perikanan. Rinciannya terdiri dari FEB 38 orang, Teknik 48 orang, FAPERTA 6 orang, Sastra dan Budaya 19 orang, serta FATETA 7 orang.
Ada pula peserta dari FKIP sebanyak 24 orang, FMIPA 5 orang, FPIK 2 orang, hingga Teknik Perminyakan dan Pertambangan 36 orang. Seluruh mahasiswa tersebut akan dibagi ke dalam kelompok lintas disiplin ilmu agar kerja di lapangan lebih maksimal.
“Setelah pembekalan, mahasiswa akan dibagi ke dalam kelompok berjumlah 8 hingga 10 orang yang berasal dari lintas fakultas. Ini penting agar mahasiswa dapat bekerja secara multidisiplin,” jelasnya.
Untuk menjamin kesiapan, UNIPA menetapkan standar akademik ketat bagi setiap peserta yang ingin terjun ke lokasi KKN. Mahasiswa wajib menyelesaikan minimal 110 SKS sebagai bukti kematangan ilmu sebelum mengabdi kepada masyarakat.
“Mahasiswa yang berhak mengikuti KKN adalah mereka yang telah menempuh minimal 110 SKS. Umumnya mereka berada di semester enam hingga tujuh,” tambah Freddy.
Program pengabdian ini dijadwalkan berlangsung selama dua bulan dengan fokus membantu menyelesaikan persoalan di kampung. Pengalaman ini diharapkan menjadi pelajaran berharga yang tidak bisa didapatkan mahasiswa di dalam ruang perkuliahan.
“Kehadiran mahasiswa di kampung diharapkan dapat membantu masyarakat. Di sisi lain, mahasiswa juga belajar karena pengalaman di lapangan tidak bisa diperoleh di ruang kelas,” ucapnya. (LP14/red)
