MANOKWARI, LinkPapua.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Papua Barat mengimbau warga menggunakan masker N95 saat beraktivitas di luar ruangan di tengah kabut asap yang menyelimuti Manokwari. Asap dinilai berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat Alwan Rimosan mengatakan asap di Manokwari tidak hanya berasal dari kebakaran TPA Sowi Gunung yang berlangsung lebih dari sebulan. Kiriman asap dari wilayah lain juga membuat kualitas udara di Manokwari masih terdampak.
“Memang sekitar sebulan lebih TPA Sowi Gunung terbakar dan ditambah kiriman asap dari luar Manokwari. Pemerintah telah membentuk tim satgas dan Dinas Kesehatan juga turut terlibat,” ujar Alwan, Rabu (7/10/2026).
Dinas Kesehatan meminta warga meningkatkan kewaspadaan ketika berada di luar ruangan. Penggunaan masker dengan perlindungan tinggi seperti N95 dianjurkan untuk mengurangi paparan asap.
“Perlu kita pakai masker karena asap kebakaran ini bisa saja mengandung gas beracun yang mengakibatkan gangguan pernapasan,” katanya.
Asap kebakaran dapat membawa partikel berukuran sangat kecil seperti PM2.5 yang masuk jauh ke saluran pernapasan. Selain itu, asap pembakaran berpotensi mengandung zat berbahaya dan karsinogen yang dapat berdampak terhadap kesehatan dalam jangka panjang.
Risiko paparan tersebut lebih besar bagi ibu hamil, anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki penyakit tertentu. Kelompok tersebut diminta lebih waspada ketika kualitas udara menurun akibat asap.
“Kalau kebakaran di TPA Sowi Gunung kemarin memang sangat beracun karena banyak sampah plastik. Kita ke sana menggunakan masker N95,” tuturnya.
Alwan menegaskan masker menjadi salah satu perlindungan ketika masyarakat harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang tercemar asap. Partikel dan zat berbahaya dalam asap dapat terhirup jika tidak ada perlindungan saluran pernapasan.
Dinas Kesehatan juga mencermati kemungkinan dampak kabut asap terhadap peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan. Fenomena El Nino dan kebakaran di sejumlah wilayah disebut turut memperburuk kualitas udara.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan akan menerbitkan surat edaran terkait penggunaan masker. Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
Alwan memperkirakan kabut asap belum akan segera berakhir. Selain Manokwari, sumber asap disebut berasal dari wilayah yang mengalami kebakaran lahan, termasuk kawasan gambut seperti Bintuni dan Nabire.
Kebakaran di lahan gambut memiliki karakter berbeda karena api dapat bertahan dan membakar lapisan bawah tanah. Kondisi itu membuat asap dapat muncul dalam waktu lama meskipun api di permukaan telah padam.
“Jika di lahan gambut yang terbakar tidak ada upaya penanganan, maka fenomena asap ini akan berlangsung lama,” ucapnya. (LP14/red)
