MANOKWARI, LinkPapua.id – Sopir Hilux rute Manokwari-Teluk Bintuni, Papua Barat, menggelar aksi mogok massal di kawasan Gunung Botak, Kabupaten Manokwari Selatan. Aksi ini dipicu oleh penolakan terhadap kehadiran perusahaan Travel Transnusa yang dinilai mengancam mata pencaharian ratusan sopir lokal yang sudah puluhan tahun beroperasi.
“Kami melakukan ini karena diduga pemerintah mengizinkan travel yang beroperasi di Manokwari-Bintuni,” kata ketua komunitas Hilux jalur Manokwari-Bintuni, Nofti Tapilatu, Minggu (11/1/2026).
Para sopir berkumpul di pertengahan jalan antara Manokwari Selatan dan Teluk Bintuni. Aksi mogok ini rencananya akan terus berlangsung hingga Selasa (13/1) sebagai bentuk protes kepada pemerintah.
“Kami tolak kehadiran Travel Transnusa di jalur ini. 30 tahun kami beroperasi di jalur ini telah memberikan sumber penghidupan bagi ratusan warga lokal,” tegas Nofti.
Kabar mengenai peluncuran Travel Transnusa pada Senin (12/1) menjadi pemantik kemarahan para sopir. Meski persoalan ini telah dibawa ke pemerintah daerah maupun DPRK, para sopir merasa aspirasi mereka tidak digubris oleh pemangku kebijakan.
“Kami sudah bawah masalah ini ke Bupati Teluk Bintuni dan DPR, namun nyatanya travel akan melakukan launching besok Senin,” bebernya.
Dampak dari aksi mogok ini mulai dirasakan oleh para pengguna moda transportasi darat yang hendak menuju Bintuni. Banyak warga yang telantar dan kesulitan mendapatkan tumpangan mobil karena ratusan armada Hilux berhenti beroperasi.
“30 tahun kami melayani warga sejak zaman masih distrik, jalan masih berlumpur, hingga saat ini jalan sudah mulus, baru ada perusahan transportasi yang masuk merusak piring makan kami,” kata salah satu sopir, Samuel Serok.
Samuel mendesak pemerintah daerah, kabupaten maupun provinsi, untuk segera turun tangan menyelesaikan konflik kepentingan ini. Dia menegaskan bahwa kehadiran perusahaan transportasi besar hanya akan mematikan ekonomi ratusan kepala keluarga.
“Kami minta perhatian pemerintah sebab hal ini bukan masalah satu atau dua orang, tetapi kepentingan banyak orang,” kata Samuel.
Saat ini terdapat sekitar 300 lebih sopir Hilux yang menggantungkan hidupnya khusus pada jalur lintas kabupaten tersebut. Kehadiran Travel Transnusa dianggap sebagai ancaman bagi keberlangsungan hidup para sopir. (LP2/red)
