26 C
Manokwari
Senin, Maret 30, 2026
26 C
Manokwari

Search for an article

More

    BPBD Papua Barat: Longsor di Minyambouw Akibat Gempa dan Hujan Deras

    Published on

    MANOKWARI, LinkPapua.com – Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Barat, Derek Ampnir, menyatakan bencana longsor yang terjadi di Distrik Minyambouw, Pegunungan Arfak, merupakan dampak gempa bumi dan perubahan cuaca ekstrem. Longsor menelan korban jiwa dan menimbulkan kerugian materil signifikan.

    “Ini (longsor) merupakan dampak dari perubahan iklim global dan bencana pergerakan tanah akibat gempa bumi 6,1 magnitudo yang pernah kita rasakan beberapa waktu lalu,” jelas Ampnir, Minggu (26/5/2024).

    Longsor terjadi di Kampung Persiapan Piyedip, Kampung Induk Meteide, yang berdekatan Kampung Mbenti. Data BPBD mengungkapkan, 5 orang menjadi korban dalam kejadian ini, dengan rincian 1 orang selamat, 2 meninggal dunia, dan 2 lainnya masih dalam pencarian.

    Kerugian materil akibat longsor mencakup kerusakan parah pada 6 unit rumah warga dan kerusakan ruas jalan aspal sepanjang 250 meter.

    “Longsor ini masih ikutan dari gerakan tanah yang tejadi di ruas jalan di daerah Teluk Bintuni. Kemudian, dipicu cuaca hujan dengan intensitas tinggi. Merupakan rangkai dari pergerak tanah akibat gempa dan perubahan iklim,” ungkap Ampnir.

    Ampnir juga menyatakan upaya mitigasi bencana telah dimaksimalkan melalui manajemen darurat dan siaga untuk meminimalkan risiko bencana. Dia juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari area rawan longsor dekat tempat tinggal mereka.

    “Kita harus mengamankan kondisi yang ada agar tidak terjadi seperti di Luwu dan Sumatera Barat. Puji Tuhan kita masih ditolong,” ujarnya.

    Ampnir mengungkapkan Pegunungan Arfak dikategorikan sebagai daerah dengan potensi longsor tinggi. Seluruh wilayah di sana, kata dia, berada dalam zona risiko tinggi sesuai dengan kajian risiko bencana provinsi.

    “Semua wilayah Pegunungan Arfak berada dalam ancaman risiko dan bencana longsor tinggi. Sudah kita petakan dalam kajian resiko bencana provinsi, sudah masuk dalam zona resiko tinggi,” bebernya.

    Ampnir pun mendorong masyarakat untuk menanam dan membudidayakan tanaman dataran tinggi, seperti kopi dan tanaman endemik, di Pegunungan Arfak. Hal ini dianggap penting untuk menghindari pembukaan lahan atau kebun yang bisa memicu longsor.

    Menurutnya, kopi dan tanaman endemik yang telah ada sejak zaman dahulu perlu dipakai untuk mitigasi bencana. Tidak boleh ditebang untuk alasan apa pun, termasuk kepentingan berkebun.

    “Mari, kita jaga alam. Kejadian di Wariori, Manokwari Selatan, dan Bintuni, kita harus menjaga alam, bersahabat dengan alam supaya alam menjaga kita,” tuturnya. (LP2/red)

    Latest articles

    Dukungan Mengalir, Prof Hammar Digadang Jadi Kandidat Kuat Ketum KONI Papua...

    0
    MANOKWARI, LinkPapua.id - Dinamika bursa pemilihan Ketua Umum (Ketum) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Papua Barat periode lima tahun ke depan mulai memanas....

    More like this

    Dukungan Mengalir, Prof Hammar Digadang Jadi Kandidat Kuat Ketum KONI Papua Barat

    MANOKWARI, LinkPapua.id - Dinamika bursa pemilihan Ketua Umum (Ketum) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI)...

    Rektor Berharap Lulusan UNCRI Bawa Perubahan Positif di Papua Barat

    MANOKWARI, LinkPapua.id - Rektor Universitas Caritas Indonesia (UNCRI), Prof Robert KR Hammar, menaruh harapan...

    Tak Perlu Pikir Biaya, Pasien Anemia di Manokwari Puas Layanan JKN-KIS

    MANOKWARI, LinkPapua.id - Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan benar-benar menjadi...
    Exit mobile version