MANOKWARI, LinkPapua.id – Dinas Pendidikan (Disdik) Papua Barat menempuh mekanisme adat untuk mendamaikan perselisihan antara siswa kelas X dan kelas XI SMA Taruna Kasuari Nusantara (TKN). Proses perdamaian ini melibatkan siswa, orang tua, pihak sekolah, hingga Dinas Pendidikan untuk memulihkan lingkungan pendidikan yang kondusif.
“Penyelesaian dilakukan secara adat di lapangan terbuka. Pihak paguyuban angkatan IV (kelas XI) akan menanggung biaya yang dikeluarkan pihak korban, yakni kelas X,” kata Kepala Dinas Pendidikan Papua Barat Barnabas Dowansiba, Rabu (29/4/2026).
Barnabas menjelaskan agenda tersebut meliputi permohonan maaf serta komitmen bersama untuk tidak mengulangi kejadian serupa di masa depan. Seluruh pihak sepakat menyelenggarakan prosesi permohonan maaf ini di lapangan terbuka agar disaksikan secara luas.
Siswa kelas XI akan menyampaikan permohonan maaf kepada adik kelasnya dengan pendampingan orang tua masing-masing. Pihak korban juga menyatakan kesediaan menerima maaf dan berkomitmen tidak melakukan aksi pembalasan apa pun.
Pihak sekolah SMA TKN juga menyiapkan surat pernyataan resmi untuk memperkuat kesepakatan yang telah terucap secara terbuka tersebut. Barnabas memberikan peringatan kepada seluruh siswa agar mematuhi poin-poin perdamaian yang telah ditandatangani.
“Jika ada yang mengulangi atau membuat masalah lagi, maka akan dikeluarkan dari sekolah secara hormat,” tegas Barnabas.
Pemerintah daerah menganggap pendekatan adat ini sebagai solusi terbaik untuk memberikan efek jera sekaligus peringatan terakhir bagi para siswa. Sebanyak 60 siswa kelas XI pun harus menjalani aktivitas belajar secara daring selama proses penyelesaian masalah ini berlangsung.
Kebijakan pembelajaran jarak jauh tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama hingga seluruh persoalan dinyatakan tuntas. Barnabas mengharapkan pihak korban bersedia menghentikan proses hukum setelah prosesi adat selesai.
Barbanas menambahkan langkah ini bertujuan untuk memulihkan hubungan emosional antar-siswa di lingkungan SMA TKN. Pihaknya ingin menciptakan kembali suasana sekolah yang aman bagi seluruh peserta didik. (LP14/red)
