MANOKWARI, LinkPapua.id – Provinsi Papua Barat mencatatkan inflasi year on year (y-on-y) sebesar 5,83 persen pada Februari 2026. Lonjakan tajam pada kelompok perumahan dan energi menjadi motor utama kenaikan indeks harga di wilayah tersebut.
“Pada Februari 2026 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Papua Barat sebesar 5,83 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,04,” tulis Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan resminya, Senin (9/3/2026).
BPS mengungkapkan kenaikan harga pada sektor perumahan dan kebutuhan rumah tangga lainnya melonjak hingga di atas 20 persen. Hal ini memicu peningkatan biaya hidup masyarakat secara signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 20,86 persen; kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 9,86 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 6,47 persen; kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,82 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,85 persen; kelompok kesehatan sebesar 1,78 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,73 persen; dan kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,69 persen,” tulis BPS merincikan.
Meskipun sebagian besar kelompok pengeluaran mengalami kenaikan, terdapat tren penurunan harga pada beberapa sektor tertentu. Kelompok pendidikan dan peralatan rumah tangga justru mencatatkan kontraksi harga pada bulan ini.
“Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks yaitu kelompok pendidikan sebesar 3,86 persen; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,89 persen; dan kelompok transportasi sebesar 0,04 persen,” sebut BPS dalam laporannya.
Secara kumulatif bulanan, Papua Barat justru menunjukkan tren penurunan harga dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi deflasi terpantau terjadi pada perhitungan bulan ke bulan maupun sepanjang tahun berjalan.
“Papua Barat bulan Februari 2026 mengalami deflasi month to month (m-to-m) dan deflasi year to date (y-to-d) masing-masing sebesar 0,65 persen dan 0,63 persen,” lapor BPS. (*/red)
