Papua Barat Inflasi 5,94% di Mei 2026, Dipicu Tarif Transportasi

Published on

MANOKWARI, LinkPapua.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Papua Barat mengalami inflasi tahunan yang cukup signifikan pada periode pertengahan tahun ini. Lonjakan indeks harga konsumen (IHK) dipicu melambungnya tarif pengeluaran pada sektor angkutan publik.

“Pada Mei 2026 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Papua Barat sebesar 5,94 persen dengan IHK sebesar 112,93,” tulis BPS Papua Barat dalam keterangannya dikutip, Minggu (7/6/2026).

Kenaikan harga barang dan jasa yang merata di berbagai sektor komoditas menjadi faktor pendorong melejitnya angka inflasi daerah. Sektor transportasi mencatatkan kenaikan indeks kelompok pengeluaran paling tinggi dengan angka mencapai 14,89 persen.

Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran ikut menyumbang inflasi sebesar 8,19 persen disusul sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 7,91 persen. Pergerakan angka-angka ini memicu pergeseran daya beli masyarakat secara riil di pasar domestik.

“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok transportasi sebesar 14,89 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 8,19 persen; kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 7,91 persen; kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 7,35 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 3,87 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 3,50 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,80 persen; kelompok kesehatan sebesar 1,72 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,88 persen; dan kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,35 persen,” papar BPS.

BPS juga merinci beberapa sektor penunjang lain yang ikut merangkak naik seperti kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 7,35 persen. Angka tersebut diikuti kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 3,87 persen serta kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 3,50 persen.

Di sisi lain, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga ikut merangkak naik sebesar 2,80 persen. Sektor kesehatan juga menyumbang angka 1,72 persen disusul informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,88 persen, serta perlengkapan rumah tangga sebesar 0,35 persen.

“Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks yaitu kelompok pendidikan sebesar 3,68 persen,” terangnya.

Penurunan berkala pada sektor biaya sekolah tersebut menjadi satu-satunya komponen yang mengalami deflasi di tengah gempuran kenaikan harga barang. Kendati demikian, performa ekonomi bulanan regional terpantau tetap menunjukkan tren pergerakan yang cenderung positif.

“Papua Barat pada Mei 2026 mengalami inflasi month to month (m-to-m) dan inflasi year to date (y-to-d) masing-masing sebesar 0,56 persen dan 1,98 persen,” pungkasnya. (*/red)

Latest articles

Suami di Manokwari Laporkan Istri dan Oknum Komisioner KPU ke Polisi...

0
MANOKWARI, LinkPapua.id – Seorang suami berinisial R melaporkan istrinya, TJ, dan AM yang disebut sebagai Komisioner KPU Papua Barat periode 2025-2030 ke Polresta Manokwari....

More like this

Bank Papua dan HIPMI Papua Barat Perkuat Kolaborasi, Dorong Pelaku UMKM Akses KUR

MANOKWARI, Linkpapua.id – Bank Papua memperkuat kolaborasi dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Papua...

OJK Optimalkan SLIK, Perkuat Akses Pembiayaan UMKM dan Program 3 Juta Rumah

JAKARTA, LinkPapua.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengoptimalkan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) untuk...

OJK Edukasi 219 Ribu Warga Papua Barat dan PBD, Perkuat Literasi Keuangan-Pelindungan Konsumen

MANOKWARI, LinkPapua.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Papua Barat dan Papua Barat Daya (PBD)...