MANOKWARI, LinkPapua.id – Pelajar Papua Barat meraih juara pertama dan medali emas dalam ajang World Science Environment Engineering Competition melalui inovasi biskuit berbahan dasar buah merah. Inovasi tersebut juga dinobatkan sebagai project terbaik dalam kompetisi sains internasional yang berlangsung di Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Jakarta.
Tim delegasi Papua Barat dipimpin Damaris Rouw dengan anggota Gilbert Sonothan, Julianus Rouw, dan Hillary Merauje. Mereka membawa inovasi biskuit yang dikembangkan sebagai salah satu upaya membantu penanganan persoalan stunting di Papua Barat.
“Karena angka stunting yang tinggi sehingga kami membuat ide untuk membantu pemerintah. Produk biskuit ini dari tangan lokal yang dibawa mengikuti ajang sains internasional,” ujar Damaris usai bertemu Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan di rumah jabatan Gubernur Papua Barat, Susweni, Manokwari, Jumat (11/9/2026).
Damaris mengatakan prestasi tersebut tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat. Dukungan itu membuat tim dapat mengikuti seluruh rangkaian kompetisi.
Dia menjelaskan buah merah dipilih sebagai bahan utama karena merupakan tanaman endemik Papua. Tanaman tersebut memiliki potensi kandungan nutrisi dan dinilai belum sepenuhnya dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah.
“Biskuit ini berbahan dasar buah merah sebagai buah endemik Papua. Proses pembuatannya dilakukan di laboratorium Malang dan hasil uji kandungan nutrisinya untuk ibu hamil semester satu hingga tiga terpenuhi,” katanya.
Proses pembuatan biskuit dilakukan melalui penelitian di laboratorium di Malang, Jawa Timur. Berdasarkan hasil uji kandungan nutrisi yang dilakukan tim, produk tersebut dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi ibu hamil dari trimester pertama hingga trimester ketiga.
Damaris berharap inovasi tersebut tidak berhenti sebagai produk yang memenangkan kompetisi. Dia ingin biskuit buah merah itu dikembangkan lebih lanjut agar memberikan manfaat bagi masyarakat dan mendukung upaya pemerintah menekan angka stunting di Papua Barat.
Persoalan stunting, kata Damaris, tidak cukup ditangani melalui program pemerintah. Inovasi pangan lokal yang aman, bergizi, dan dapat diterapkan secara berkelanjutan juga dibutuhkan.
“Kami bersyukur hari ini bisa menyampaikan hasil yang kami dapat kepada Bapak Gubernur Papua Barat,” tuturnya.
Damaris mengatakan keberhasilan meraih medali emas dan predikat project terbaik menjadi pengalaman sekaligus motivasi bagi tim. Tim juga terdorong untuk terus mengembangkan penelitian setelah mengikuti kompetisi tersebut.
“Kami mengapresiasi kepada pemerintah yang selalu peduli kepada anak-anak yang mau untuk belajar dan berprestasi,” ucapnya.
Damaris berharap dukungan pemerintah tidak berhenti pada keikutsertaan dalam kompetisi. Menurutnya, pembinaan secara berkelanjutan diperlukan agar peneliti muda Papua Barat dapat terus mengembangkan inovasi dan kembali berprestasi pada berbagai ajang berikutnya.
Di sisi lain, inovasi biskuit buah merah masih membutuhkan tahapan lanjutan sebelum dapat diterapkan secara luas sebagai bagian dari upaya penanganan stunting. Pengujian keamanan, standar produksi, penerimaan masyarakat, hingga efektivitasnya dalam mendukung perbaikan status gizi masih perlu diperkuat.
Damaris menilai medali emas yang diraih tim Papua Barat bukan hanya menjadi kebanggaan. Prestasi tersebut juga menjadi momentum agar hasil penelitian anak-anak daerah tidak berhenti di panggung kompetisi. (LP14/red)
