MANOKWARI, Linkpapua.id- Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua Barat terus mendorong penguatan pengendalian inflasi serta pertumbuhan ekonomi daerah melalui optimalisasi potensi pangan lokal.
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Papua Barat, Arif Rahadian, menyampaikan apresiasi atas peran pemerintah daerah, Badan Pusat Statistik (BPS), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi di Papua Barat.
Menurutnya, tekanan inflasi di Papua Barat masih perlu menjadi perhatian, terutama yang berasal dari kelompok transportasi, makanan dan minuman, serta sejumlah kelompok pengeluaran lainnya. Namun, mulai Agustus 2026, Papua Barat mencatat deflasi.
“Mulai Agustus adanya deflasi. Ini tetap menuntut kewaspadaan dalam pengendalian inflasi,” ujar Arif.
Ia mengatakan, upaya pengendalian inflasi perlu terus dioptimalkan melalui empat aspek utama, yakni memastikan ketersediaan pasokan, menjaga keterjangkauan harga, memastikan kelancaran distribusi, serta memperkuat komunikasi kepada masyarakat.
Arif menjelaskan, kolaborasi Pesta Sinoli dan Torang Locavore menjadi wadah edukasi sekaligus ruang untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya penggunaan data dalam perumusan kebijakan.
BI juga menghadirkan Torang Locavore sebagai salah satu strategi program dalam mendukung target pengendalian inflasi, khususnya dengan memperkuat pemanfaatan pangan lokal dan hilirisasi.
“Kerentanan logistik dari luar daerah menjadi salah satu perhatian. Karena itu, hilirisasi pangan lokal perlu terus didorong agar potensi daerah dapat memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Papua Barat Marten Kocu yang mewakili Gubernur dalam sambutannya menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan literasi data sekaligus mendorong pengelolaan pangan lokal secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan seperti booth Pesta Sinoli, showcasing UMKM produk hilirisasi pangan, booth Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), hingga booth edukasi kebanksentralan dan stabilisasi harga atau ESENSI, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya data dan pangan lokal.
Ia menilai Torang Locavore 2026 juga menjadi momentum untuk memperkenalkan serta mempromosikan berbagai produk pangan lokal khas Papua Barat.
“Diharapkan dapat mendorong tumbuhnya ekonomi kerakyatan yang berbasis potensi daerah,” ujarnya.
Rangkaian Pesta Sinoli dan Torang Locavore 2026 tidak hanya menjadi ajang promosi produk lokal, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, lembaga negara, pelaku UMKM, dan masyarakat dalam memperkuat ekonomi daerah serta menjaga stabilitas harga.(LP3/Red)
