29 C
Manokwari
Jumat, April 10, 2026
29 C
Manokwari
More

    Dari Diskusi Webinar PIKI: Pariwisata Daerah Bisa Bangkit Lebih Cepat, Asal…

    Published on

    JAKARTA, Linkpapua.com – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) menggelar diskusi webinar, Sabtu (20/11/2021). Diskusi bertajuk ‘Pengembangan Pariwisata Daerah: Peluang dan Tantangan’ ini menghadirkan sejumlah pembicara.

    Mereka di antaranya Prof Dr Ir E.K.S. Harini Muntasib selaku Ketua Divisi Rekreasi Alam dan Ekowisata Fakuktas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB), kemudian Direktur Industri, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kementerian PPN (Bappenas) Leonardo AA Teguh Sambodo serta Bupati Raja Ampat Abdul Faris Umiati.

    Hadir pula Bupati Minahasa Utara Joune J.E Ganda dan Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba Jimmy Bernando Panjaitan

    Merdy Rumintjap, Ketua Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DPP PIKI mengatakan bahwa webinar ini digelar untuk mengawal kebangkitan kembali industri pariwisata nasional dan ekonomi kreatif, yang sempat terdampak pandemi Covid-19.

    “Sektor pariwisata diharapkan menyumbang devisa terbesar untuk Indonesia. Tetapi pengembangannya harus melibatkan stakeholder pariwisata yang bersatu dengan berbagai pihak manapun,” ujar Merdy.

    Ketua Umum DPP PIKI, Dr Badikenita Putri Sitepu menambahkan, dari sekitar 280 proyek strategis nasional yang dicanangkan pemerintah, hanya berjalan sekitar 86 proyek.

    “Dari yang 86 itu pun, kemarin mengalami koreksi. Padahal peluang investasi dan pengembangan pariwisata sangat besar dari proyek strategis nasional,” kata Badikenita.

    Katanya lagi, Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat besar. Karena itu, perlu ditekankan bahwa pola pembangunan yang dilakukan di daratan dan kepulauan, harus menggunakan parameter yang berbeda.

    Baca juga:  Pemprov PBD Genjot Sektor Pariwisata, Gulirkan 4 Program Multi Stakeholder

    Bila dihubungkan dengan upaya pengembangan pariwisata daerah, branding atau promosi saja tidak cukup. Di saat bersamaan, upaya-upaya untuk mengembangkan infrastruktur pendukung mesti dilakukan.

    “Semoga ini bisa didengar masyarakat Indonesia bahwa membangun Indonesia dan pariwisatanya itu harus secara holistik. Jadi tidak hanya, membranding tujuan wisata, tetapi harus diikuti dengan memperbaiki infrastruktur,” imbuhnya.

    Salah satu narasumber webinar, Prof Dr Ir E.K.S. Harini Muntasib, Ketua Divisi Rekreasi Alam dan Ekowisata Fak. Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB), menjelaskan bahwa Indonesia memiliki banyak banyak potensi pariwisata alam yang belum dikembangkan secara maksimal. Dia menilai, ada prinsip-prinsip dasar ekowisata atau wisata alam yang kerap dilupakan banyak pihak.

    “Pertama, wisata alam itu nature based atau produk dan pasarnya berdasar pada alam. Maka, wisata alam itu jangan semuanya harus mass tourism. Targetnya bukan jumlah pengunjung yang banyak, tapi jumlah uang yang masuk, bisa jadi target,” katanya.

    Kedua, menurut Harini, pelaksanaan dan manajemen pariwisata alam harus mempertimbangkan keberlanjutan ekologis. Ketiga, dalam pengembangan pariwisata alam, mesti ada environmentally educative atau pendidikan lingkungan bagi pengelola dan pengunjung.

    “Berikutnya, yang tidak boleh dilupakan juga, ekowisata harus bermanfaat bagi masyarakat lokal dan harus bisa memberikan kepuasan terhadap pengunjung,” katanya.

    Baca juga:  Kepala-Bendahara Puskesmas Amban Manokwari Jadi Tersangka Korupsi Dana BOK

    Harini menambahkan, dalam pengembangan pariwisata alam, peran serta masyarakat setempat adalah hal yang sangat penting. Namun, mereka mesti memiliki pemahaman yang benar tentang sumber daya alam di sekitarnya, serta keunggulan dan kekurangannya.

    “Mereka juga harus sadar bahwa bisnis wisata adalah bisnis pelayanan, harus bisa membangun jejaring dengan para pihak terkait untuk pengembangan wisata di daerahnya juga terhadap komunitas yang menyukai sumber daya di daerahnya, serta memiliki wawasan terhadap kebutuhan pengunjung. Namun yang paling penting d sini, pengembangan pariwisata alam harus memperhatikan kaidah lingkungan dan modal sosial,” tuturnya.

    Sementara itu, Direktur Industri, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kementerian PPN (Bappenas), Leonardo A.A Teguh Sambodo mengatakan bahwa pembangunan pariwisata harus holitik dan terintegrasi.

    “Pembangunan pariwisata harus meliputi pembangunan infrastruktur untuk aksesbilitas, pembangunan kawasan, pembangunan amenitas wilayah atau perkotaan, amenitas dan transaksi, pengembangan SDM Pariwisata, dan pembangunan destinasi pariwisata itu sendiri,” urainya.

    Dia menambahkan, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan untuk mendongkrak iklim pariwisata di Indonesia, khususnya di masa pandemi seperti saat ini.

    “Kita masih harus kerja keras untuk memastikan kesehatan dan kebersihan, khususnya karena ini masih di masa pandemi. PR Kita lainnya adalah memastikan lingkungan berkelanjutan, infrastruktur darat dan laut, serta infrastruktur khusus wisata,” katanya.

    Baca juga:  Kapal Pesiar Datang, Papua Barat Raup Puluhan Juta per Kunjungan

    Kata Teguh, dalam RPJMN 2020-2024 ada 18 destinasi wisata yang jadi prioritas. Namun Presiden Jokowi telah menginstruksikan agar hingga akhir 2020, fokus diberikan pada pembangunan fisik 5 destinasi super prioritas yang meliputi Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang yang harus sudah selesai akhir 2020.

    “Setelah itu, masuk 5 destinasi pariwisata prioritas berikutnya yang meliputi Wakatobi, Raja Ampat, Bangka Belitung, Bromo Tengger Semeru, dan Morotai,” urai Teguh.

    Tegus menegaskan, pada 2022, pemerintah telah menetapkan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang fokus pada pemulihan ekonmoi dan reformasi struktural.

    Di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, RKP itu akan diimplementasikan dalam sejumlah langkah. Pertama, pemerintah akan fokus pada pemulihan pasar melalui insentif paket wisata, travel corridor arrangement dan travel bubble, kampanye Bangga buatan Indonesia, serta pengadaan barang dan jasa pemerintah dan BUMN.

    Kemudian, pemerintah Juga akan fokus pada pemulihan lapangan kerja melalui bantuan pemulihan tenaga kerja parekraf serta pemulihan jam kerja dan re-hiring.

    “Pemerintah juga akan fokus pada pemulihan industri parekraf melalui penerapan CHSE di destinasi, adaptasi digitalisasi, pembangunan infrastruktur di 5 DPSP, revitalisasi bali dan pemulihan destinasi unggulan lainnya seperti Batam-Bintan, Bandung, dan Banyuwangi,” tuturnya. (*)

    Latest articles

    DPRP Papua Barat Bahas Perda Bantuan Hukum, Prioritaskan Masyarakat Miskin-OAP

    0
    MANOKWARI, LinkPapua.id - Bapemperda DPRP Papua Barat saat ini tengah membahas raperda bantuan hukum bagi masyarakat miskin. Regulasi ini menjadi prioritas untuk memberikan akses...

    More like this

    Norman Desak Segera Definitifkan Jabatan Kadin Perindag Manokwari

    MANOKWARI, Linkpapua.id – Anggota DPRK Manokwari, Norman Tambunan, melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah daerah...

    DPRK Manokwari Gelar RDP Bahas Banjir, Soroti Antisipasi dan Penanganan

    MANOKWARI, Linkpapua.id-Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Manokwari menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada Jumat...

    DPRK Manokwari Minta Perbaikan Irigasi Aimasi SP 5 untuk Dukung Ketahanan Pangan

    MANOKWARI, Linkpapua.id– Anggota DPRK Manokwari, Siswanto, meminta Balai Wilayah Sungai Papua Barat segera memperbaiki...