MANOKWARI, LinkPapua.id – Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan meresmikan layanan dialisis atau cuci darah di RSUP Papua Barat. Layanan ini menjadi yang pertama hadir di wilayah Kepala Burung–julukan Papua Barat.
Dominggus mengatakan RSUP Papua Barat mulai dibangun sejak masa pandemi Covid-19. Namun peresmian baru dilakukan pada 9 Mei 2022 di akhir periode pertamanya.
“Dari situ perjalanan rumah sakit ini cukup panjang hingga akhirnya semakin bertambah fasilitas, tenaga medis juga ruangan. Hari ini juga akan bertambah satu layanan yaitu layanan dialisis (cuci darah),” ujar Dominggus, Kamis (28/8/2025).


Dia menyebut layanan dialisis sangat penting untuk pasien gagal ginjal kronis. Saat ini ada 134,57 pasien di Papua Barat yang wajib cuci darah minimal dua kali seminggu.
“Dengan adanya unit pelayanan dialisis tidak perlu lagi pasien dirujuk ke luar daerah. Menurut laporan terdapat 16 pasien dari luar daerah akan ditarik kembali ke Manokwari,” tuturnya.


Lebih lanjut, Dominggus mengungkap setiap bulan ada 1-2 pasien gagal ginjal meninggal karena akses layanan sulit dijangkau. Kehadiran fasilitas ini dinilai sangat membantu pasien.
Dominggus juga meminta dukungan agar layanan cuci darah di RSUP bisa berkelanjutan. Dia berpesan kepada tenaga medis untuk bekerja profesional, ramah, dan penuh empati.
Direktur RSUP Papua Barat dr Arnoldus Tiniap menjelaskan RSUP berdiri di lahan 14,2 hektare dan diresmikan pada 9 Mei 2022. Saat ini RSUP memiliki 520 pegawai dengan 55 persen ASN/PPPK dan 45 persen pegawai kontrak.
Tiniap mengatakan RSUP memiliki 16 dokter spesialis tetap, 3 dokter tamu, dan 7 dokter kontrak. Ada 11 layanan spesialistik, dan kini bertambah menjadi 12 dengan adanya dialisis.
“Persiapan untuk layanan dialisis cukup panjang sekitar 2 tahun. Dibutuhkan pelatihan tenaga pekerja minimal 4 bulan di Makassar, renovasi ruangan, hingga persiapan sumber air khusus untuk cuci darah,” bebernya.
Dia menambahkan pengelolaan limbah medis juga menjadi syarat penting sebelum izin operasional keluar. RSUP turut menggandeng dokter spesialis dari RS DMC Manokwari untuk memperkuat layanan.
Tiniap menyebut sudah ada 16 pasien yang akan rutin cuci darah 2-3 kali per minggu. Biaya sekali tindakan mencapai Rp 850 ribu hingga Rp 1 juta.
“Sehingga jika sebulan pasien harus mengeluarkan uang sekitar 8 hingga 12 juta. Hal ini tentu berat bagi pasien jika tanpa dukungan BPJS Kesehatan dan Kartu Papua Barat Sehat (KPBC),” ucapnya.
Tiniap berharap RSUP bisa menjadi rumah sakit rujukan di Papua Barat, khususnya wilayah Kepala Burung. RSUP Papua Barat kini menjadi rumah sakit keenam di tanah Papua yang memiliki layanan dialisis. (LP14/red)


























