MANOKWARI, LinkPapua.id – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi tumpuan bagi penderita penyakit kronis di Manokwari, Papua Barat, untuk mendapatkan pengobatan jangka panjang tanpa kendala biaya. Salah seorang karyawan swasta, Merry Mananohas (29), mengaku sangat terbantu setelah didiagnosis mengidap penyakit tiroid yang memerlukan terapi rutin.
“Sebagai pekerja, saya merasa terbantu karena biaya pengobatan yang harus dijalani cukup besar jika ditanggung sendiri,” kata Merry dalam keterangannya, Rabu (25/2/2026).
Merry merupakan peserta segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) yang didiagnosis mengalami thyrotoxicosis hyperthyroidism atau kelebihan hormon tiroid. Penyakit ini membuatnya harus menjalani konsultasi dokter spesialis hingga pemeriksaan laboratorium secara berulang.
“Ketika kondisinya semakin parah dan tidak membaik, saya akhirnya ke IGD untuk mendapatkan penanganan,” ujarnya.
Sebelumnya, Merry sempat mengabaikan gejala jantung berdebar dan berat badan menurun drastis karena mengira hanya kelelahan bekerja. Beruntung, seluruh biaya layanan kesehatan hingga obat-obatan yang dibutuhkannya kini sepenuhnya ditanggung oleh JKN sesuai indikasi medis.
“Jangan menunggu sakit parah. Pastikan kepesertaan aktif supaya saat membutuhkan layanan, kita sudah terlindungi,” pungkas Merry.
Selain keringanan biaya, Merry juga aktif memanfaatkan fitur digital melalui aplikasi Mobile JKN untuk menunjang urusan administratif. Ia merasa pengambilan antrean secara daring sangat membantu mempercepat proses pelayanan di fasilitas kesehatan agar tidak menunggu terlalu lama.
Namun, keberhasilan JKN di lapangan tetap menghadapi tantangan besar terkait pemerataan kualitas pelayanan di berbagai wilayah. Persoalan antrean yang masih menumpuk dan keterbatasan tenaga medis di sejumlah titik tetap menjadi catatan penting bagi pihak pengelola.
Penguatan sistem digital dan peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan tingkat pertama menjadi kunci utama optimalisasi layanan. Hal ini penting agar manfaat program gotong royong tersebut dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat di Papua Barat. (LP14/red)








