Miris! 32 Nelayan Jateng Telantar di Pelabuhan Manokwari Usai Ditipu Oknum TNI

Published on

MANOKWARI, LinkPapua.com – Sebanyak 32 nelayan asal Jawa Tengah dan Sumatera Utara diturunkan paksa dari kapal Pelni saat tiba di Pelabuhan Manokwari, Papua Barat, Jumat (14/6/2024). Mereka kedapatan menumpang tanpa tiket. Para nelayan itu masih berada di teras ruang tunggu Pelabuhan Manokwari. Mereka mengaku menantikan bantuan dari keluarga di kampung.

Para nelayan ini mengaku ditipu oknum TNI. Uang perbekalan yang diberikan pihak perusahaan tempat mereka bekerja sebelumnya dikumpulkan seorang anggota TNI yang mengaku akan membantu mereka mendapatkan tiket.

“Kami 28 orang sudah kasih uang Rp1.050.000 ke Bapak Koramil di Biak, namanya Bapak Majid, untuk beli tiket kapal dari Biak ke Surabaya (Jawa Timur). Setelah itu kami disuruh naik ke kapal. Ternyata uang yang kami berikan tidak dipakai beli tiket. Akhirnya kami diturunkan di sini (Manokwari) oleh pihak kapal Pelni,” kata Hendrik.

Petugas kapal Pelni terpaksa menurunkan mereka karena mereka diajarkan oknum TNI bahwa dikasih uang salam tempel setiap kapal masuk pelabuhan.

“Kami diusir karena tidak ada tiket, padahal saat di Biak, Pak Koramil itu sempat mengembalikan Rp390 ribu. Katanya nanti di dalam kapal dikasih salam tempel (kepada anak buah kapal/ABK) kapal Pelni, sampai tujuan,” katanya lagi.

Hendrik mengatakan setelah diturunkan dari kapal nelayan, mereka diarahkan pihak Syahbandar Biak agar menginap di salah satu penginapan menunggu kapal ke Surabaya.

Para nelayan terpaksa menghubungi keluarga di kampung halaman untuk mengirim bantuan uang saat mereka di Manokwari. Kiriman uang tersebut untuk membeli tiket lanjutan dengan kapal Pelni yang memiliki rute Ternate-Bitung.

Jumat sore mereka memilih kembali ke Biak menggunakan kapal perintis untuk bertemu kembali dengan pak Majid. Mereka ingin minta pertanggungjawaban soal uang tiket mereka yang sebelumnya dikumpulkan oleh pak Majid. Perlakuan Tidak Mengenakkan di Perusahaan.

“Kami bekerja di kapal ikan Andalan Sumber Laut milik PT Starindo, tapi kami sering dicaci maki sama Kapten bernama AHY Sutanto. Dia sering menyebut kami dengan kalimat bukan manusia, tapi bintang sambil memvideokan,” kata Hendrik, warga Brebes, Jawa Tengah.

Hendrik bersama teman-temannya yang berasal dari Brebes, Pekalongan (Jawa Tengah), dan Medan (Sumatera Utara) bekerja sebagai nelayan dengan kontrak satu tahun. Namun, baru lima bulan mereka diturunkan dari kapal nelayan dengan bekal uang Rp2 juta per orang.

“Kami dicaci maki kapten setiap hari, bahkan puncaknya kami diturunkan di Biak, Papua, dengan dikasi bekal dua juta (Rp2 juta),” ucap Kiswanto, nelayan lainnya.

Selama lima bulan bekerja di kapal nelayan, mereka mencari ikan di wilayah perairan Papua hingga perbatasan Papua Nugini. Mereka sering dicemooh oleh Kapten.

“Bahkan ketika kami sakit, Kapten sering mengomel dan bilang kalian sebaiknya mati saja,” tutur Slamet, warga Pemalang, Jawa Tengah. (LP2/red)

Latest articles

Seleksi Transparan dan Bebas KKN, Polda Papua Barat Tetapkan 81 Calon...

0
MANOKWARI, Linkpapua.id-Polda Papua Barat menggelar Sidang Kelulusan Penerimaan Terpadu Calon Anggota Polri Tahun Anggaran 2026 di Gedung Aula Arfak Polda Papua Barat, Jumat (3/7/2026).  Sidang...

More like this

Seleksi Transparan dan Bebas KKN, Polda Papua Barat Tetapkan 81 Calon Anggota Polri Lulus

MANOKWARI, Linkpapua.id-Polda Papua Barat menggelar Sidang Kelulusan Penerimaan Terpadu Calon Anggota Polri Tahun Anggaran...

Kapolda Papua Barat Pimpin Panen Raya Jagung di Soribo, Perkuat Ketahanan Pangan

MANOKWARI, Linkpapua.id – Polda Papua Barat menggelar kegiatan Panen Raya Jagung dalam rangka mendukung...

Kapolresta Manokwari Pimpin Sertijab Sejumlah Pejabat Utama, Wakapolresta hingga Kasat Berganti

MANOKWARI, Linkpapua.id-Polresta Manokwari menggelar serah terima jabatan (Sertijab) sejumlah Pejabat Utama (PJU) di lingkungan...