MANOKWARI, LinkPapua.id – Airsoft Brotherhood Unity atau ABU Regional Representative Papua Barat menggelar sosialisasi olahraga airsoft di Manokwari, Papua Barat. Kegiatan tersebut membahas sejarah, aturan, etika, serta standar keselamatan dalam olahraga simulasi militer itu, khususnya kepada insan pers.
“Unit airsoft tidak boleh diarahkan kepada siapa pun. Walaupun ini airsoft, kalau disalahgunakan konsekuensinya bisa banyak,” ujar Sekretaris ABU Regional Representative Papua Barat Subhan Cahyadi di Kafe Ko Pikir Sendiri, Selasa (8/9/2026).
Subhan menjelaskan airsoft mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1990 melalui Pulau Jawa. Pada masa awal perkembangannya, seluruh perlengkapan airsoft masih didatangkan dari luar negeri sebelum olahraga tersebut berkembang di berbagai daerah.
Di Manokwari, perkembangan airsoft mulai terlihat sejak sekitar tahun 2009. Namun, aktivitas tersebut sempat mengalami kevakuman karena kondisi keamanan di Papua saat itu.
Subhan mengatakan airsoft kini tidak sekadar menjadi aktivitas rekreasi. Olahraga tersebut juga mengedepankan disiplin, sportivitas, tanggung jawab, persahabatan, dan keselamatan.
Menurutnya, airsoft di Indonesia berkembang dalam beberapa bentuk, di antaranya tembak reaksi dan simulasi militer atau skirmish. Masing-masing memiliki aturan pertandingan dan standar keselamatan yang wajib dipatuhi pemain.
Dia menjelaskan pemain wajib memahami penggunaan unit dan menjaga posisi jari agar tidak berada di pelatuk ketika belum akan menembak. Pemain juga dilarang mengarahkan moncong unit kepada orang lain secara sembarangan.
Selain itu, batasan kekuatan tembakan atau FPS diatur untuk menghindari cedera. Standar tersebut disesuaikan dengan lokasi dan jenis permainan, baik untuk kegiatan luar ruangan maupun dalam ruangan.
Subhan mengatakan penerapan aturan bukan hanya tanggung jawab panitia atau wasit, tetapi juga seluruh pemain. Sebelum permainan dimulai, peserta wajib mengikuti briefing mengenai keselamatan dan aturan permainan.
“Airsoft ini bukan untuk mencederai orang. Yang kita utamakan adalah kesenangan, persahabatan, sportivitas, dan bagaimana kita bermain sesuai aturan,” jelasnya.
Subhan juga menyebut perkembangan airsoft di Manokwari telah melahirkan sejumlah klub dan komunitas. Di antaranya Marine Shooting Club atau MSC, Kasuari Indonesia Shooting Team atau KIST, dan Squad Combat.
Kasuari Indonesia Shooting Team disebut telah melahirkan atlet yang berprestasi di tingkat internasional. Salah satunya Gibran Khalil yang menorehkan prestasi dalam kompetisi airsoft dan tembak reaksi.
Sementara itu, Ketua PWI Papua Barat Bustam mengapresiasi pelaksanaan sosialisasi tersebut. Menurutnya, kegiatan itu penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat sekaligus menghindari kesalahpahaman mengenai olahraga airsoft.
“Melalui sosialisasi ini kita akan diberikan penjelasan mengenai sejarah dan memperkenalkan olahraga airsoft,” kata Bustam.
Bustam menilai pemahaman mengenai airsoft penting bagi insan pers sebelum memberitakan kegiatan atau komunitas kepada publik. Ia berharap sosialisasi tersebut menjadi referensi bagi wartawan untuk menghasilkan pemberitaan yang akurat dan tidak menimbulkan persepsi keliru.
Dia menegaskan insan pers di Papua Barat memiliki tanggung jawab menyajikan informasi yang berkualitas, transparan, dan berimbang. Materi sosialisasi juga dapat menjadi bahan pemberitaan untuk memperkenalkan airsoft secara lebih objektif kepada masyarakat.
Menurutnya, pemahaman tersebut mencakup aturan dan standar keselamatan yang wajib dipatuhi dalam olahraga airsoft. Masyarakat juga diharapkan tidak melihat airsoft semata-mata dari bentuk perlengkapannya yang menyerupai senjata.
Bustam berharap masyarakat memahami bahwa airsoft memiliki aturan, etika, standar keselamatan, serta nilai sportivitas yang harus dijunjung tinggi. Dengan begitu, olahraga tersebut dapat dipahami secara lebih utuh oleh masyarakat. (LP14/red)
