256 Suspek Virus Hanta di Indonesia, Kemenkes Ungkap Belum Ada Kasus HPS

Published on

JAKARTA, LinkPapua.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan ratusan temuan suspek virus Hanta yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Pemerintah menegaskan hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus tipe Hanta Pulmonary Syndrome (HPS).

“Perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Kasus yang terdeteksi merupakan tipe HFRS dan terus kami pantau melalui sistem surveilans nasional,” ujar Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr Andi Saguni, dikutip laman resmi Kemenkes, Rabu (13/5/2026).

Sepanjang tahun 2024 hingga Mei 2026, tercatat sebanyak 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Temuan kasus terkonfirmasi ini dilaporkan berada di DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur.

Tren konfirmasi menunjukkan kenaikan dari 1 kasus pada 2024 menjadi 17 kasus pada 2025. Sementara itu, terdapat 5 kasus tambahan yang terdeteksi hingga periode Mei 2026.

“Peningkatan kasus yang terlaporkan menunjukkan sistem kewaspadaan dan deteksi dini kita semakin baik. Karena itu masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus waspada terhadap faktor risiko penularan,” tambah Andi.

Kemenkes juga menelusuri satu orang kontak erat kasus HPS dari kapal pesiar MV Hondius yang berada di Indonesia. Hasil pemeriksaan laboratorium di RSPI Sulianti Saroso menunjukkan orang tersebut negatif Hantavirus tipe HPS maupun HFRS.

“Begitu notifikasi diterima, kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi, koordinasi lintas sektor, pemeriksaan laboratorium, hingga pemantauan terhadap kontak erat tersebut,” jelasnya.

Penularan virus ini terjadi melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, maupun kotorannya. Faktor risiko utama berada di lingkungan dengan populasi tikus tinggi seperti gudang tertutup, area banjir, hingga kegiatan luar ruang.

Pemerintah kini memperkuat pengawasan di pintu masuk negara melalui thermal scanner dan pengamatan visual terhadap pelaku perjalanan. Sebanyak 198 rumah sakit jejaring juga telah disiagakan untuk menangani potensi penyakit infeksi emerging tersebut.

“Kami terus memperkuat kesiapsiagaan nasional mulai dari surveilans, laboratorium, hingga layanan kesehatan agar setiap potensi kasus dapat ditangani secara cepat dan tepat,” tutup Andi. (*/red)

Latest articles

Realisasi TKD 72 Persen, Wabup Bintuni Minta OPD Tuntaskan Program

0
TELUK BINTUNI, LinkPapua.id – Wakil Bupati (Wabup) Teluk Bintuni Joko Lingara meminta organisasi perangkat daerah (OPD) segera menuntaskan program yang anggarannya telah tersedia. Permintaan...

More like this

Menkop Ferry Targetkan 25 September Manajer KDKMP Mulai Masuk Kantor

JAKARTA, LinkPapua.id – Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menargetkan manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih...

Menteri HAM Pigai Sebut Pemekaran Papua Bukan Matikan OPM, Malah Makin Parah

JAKARTA, LinkPapua.id – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengaku sejak awal menolak...

Menteri HAM Pigai Ingatkan Pergeseran ke Rasisme dan Etnik di Konflik Papua

JAKARTA, LinkPapua.id - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengingatkan perubahan pola perlawanan...