GMRI ingatkan pemimpin waspadai bahaya kolonial baru di tengah pandemi

Published on

Manokwari,Linkpapuabarat.com-Ketua Umum Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) Eko Galgendu berbicara tentang rekonsiliasi ekonomi negara Indonesia dan tantangan perubahan zaman baru para pemimpin.

Hal itu disampaikannya dalam diskusi Mappilu PWI bertajuk “Pilkada 2020: Mencari Pemimpin Perubahan” di Kantor PWI Pusat, Jakarta, Kamis (26/11).

Eko meminta kepala daerah untuk waspada menghadapi siber Covid-19 dengan strategi membumi.

“Rekonsilisasi ekonomi negara yang dimaksud adalah memperkuat kembali negara atau wadah yang memiliki suatu sisem ekonomi yang kuat guna menuju ingin dicapai,” ujarnya.

Baca juga:  Webinar Gernas BBI-BWI Papua Barat, Wamendag Minta Adaptif di Era Digital

Sementara, tantangan perubahan zaman baru yang dimaksud adalah kondisi yang dihadapi dalam memenangkan perubahan sistem dan aturan ekonomi dunia yang mengalami era perubahan zaman baru.

Siber Covid-19 dimaksud adalah perang urat saraf yang memakai media propaganda untuk melakukan serangan psikologi. Mengakibatkan manusia tidak bisa berpikir secara jernih, bingung, stres dan panik menurut kehendak perancangnya.

“Strategi membumi yang dimaksud di sini upaya bertahan dengan strategi gerakan membumi yaitu kerakyatan dan kebudayaan. memaksimalkan hasil alam dan bumi, pertanian maupun perkebunan,” jelas Eko.

Baca juga:  Wakil Ketua Komisi VII DPR RI: Rp1,4 Triliun Tak Cukup Bangun Papua Barat Daya

Menurutnya, kondisi sekarang ini yang terjadi di sejumlah negara akibat pandemi Covid-19 banyak mengalami kerugian di berbagai bidang. Maka para pemimpin mesti waspada berpikir pada kondisi paling buruk.

“Jadi kami berharap para pemimpin waspada. Serta berpikir pada kondisi paling buruk yaitu kondisi kolonial zaman baru dan senjata daripada kolonial adalah Covid-19 yang dipakai sebagai siber,” ungkap Eko.

Mengapa siber dan gaya baru ini diutarakan Eko. Karena pemimpin harus sadar bahwa negara Indonesia sedang dalam kondisi dipertaruhkan dan bisa menjadi tumbal. Jika para pemimpinnya tidak menerapkan 3C yaitu cerdas, cermat, dan cerdik dalam menilai dan memahami penyelesaian Covid-19 yang mesti beradu startegi dengan negara lain.

Baca juga:  Yanni Digadang Masuk Kabinet Prabowo-Gibran, PFM: Sangat Layak

“Jadi kondisi sekarang para pemimpin harus nenyelesaikan permasalahan Covid-19 dan harus beradu strategi dengan bangsa lainnya di dunia. Sisi lain bangsa ini masih saja ribut dengan kondisi politik di dalam negeri,” demikian Eko. (HumasMappiluPWI)

Latest articles

FASI III Papua Barat Digelar 13–14 November, 5 Kafilah Siap Berkompetisi

0
MANOKWARI, LinkPapua.id – Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) III tingkat Provinsi Papua Barat akan digelar pada 13–14 November 2026. Sebanyak 5 kafilah dari kabupaten...

More like this

Papua Selatan Terbanyak, BNPB Ungkap 1.430 Hektare Lahan Masih Terbakar

JAKARTA, LinkPapua.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.430 hektare lahan di Indonesia...

Reaksi Jokowi Ditanya soal Listyo Tersangka Penyadapan Prabowo: Diam dan Senyum

JAKARTA, LinkPapua.id – Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) memilih tidak menjawab pertanyaan wartawan...

Akhirnya! Jokowi Tunjukkan Ijazah ke Publik

JAKARTA, LinkPapua.id – Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) akhirnya memperlihatkan ijazah pendidikan dari...