MANOKWARI, LinkPapua.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan air hujan pertama yang turun saat atmosfer dipenuhi asap karhutla dapat terlihat kotor karena membawa polutan dari udara. Kondisi tersebut bukan disebabkan bahan semai yang digunakan dalam operasi modifikasi cuaca.
“Air hujan yang jatuh pertama kali memang sangat kotor. Itu karena polutan asap yang melayang di atmosfer tersapu oleh air hujan,” ujar Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo saat mengikuti rapat penanganan karhutla secara daring di Ruang Multimedia Kantor Gubernur Papua Barat, Rabu (7/10/2026).
Budi mengatakan air hujan pertama dapat terlihat kotor baik setelah proses alami maupun operasi modifikasi cuaca. Hujan menyapu polutan yang sebelumnya berada di atmosfer sehingga ikut terbawa turun bersama air.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak berkaitan dengan bahan semai dalam operasi modifikasi cuaca. Bahan semai yang digunakan berupa garam-garaman natrium klorida (NaCl).
Polutan yang telah berhari-hari berada di atmosfer akan ikut terbawa turun ketika hujan terjadi. Kondisi tersebut dapat membuat air hujan pertama mengandung zat pencemar dan bersifat lebih asam.
“Kandungan nitrit dan fosfor atau asam itu bukan berasal dari bahan semai yang dipakai dalam operasi modifikasi cuaca. Kandungan asam berasal dari asap-asap pembakaran,” jelasnya.
Budi menegaskan hujan alami tanpa operasi modifikasi cuaca juga dapat menghasilkan kondisi serupa ketika atmosfer dipenuhi polutan. Karena itu, air hujan pertama yang turun dalam kondisi tersebut tidak berkaitan dengan pelaksanaan modifikasi cuaca.
“Tanpa modifikasi cuaca, hujan alami yang terjadi pun air hujan yang jatuh pertama kali pasti akan kotor. Ini perlu digarisbawahi, bukan karena modifikasi cuacanya,” tuturnya.
Menurut Budi, kualitas air hujan sangat bergantung pada kondisi atmosfer saat hujan turun. Jika atmosfer bersih dan tidak banyak mengandung polutan, air hujan dapat memiliki kualitas yang lebih baik.
“Kalau atmosfernya bersih, air hujan bisa langsung dipakai,” sebutnya.
Di Papua Barat, hujan yang turun saat wilayah masih terdampak asap karhutla dapat membantu membersihkan polutan di atmosfer. Proses tersebut membuat hujan menjadi salah satu proses alami untuk mengurangi polutan yang melayang di udara.
Budi meminta masyarakat tidak mengaitkan perubahan kualitas air hujan pertama dengan bahan semai dalam operasi modifikasi cuaca. Bahan yang digunakan merupakan garam-garaman NaCl, sedangkan kandungan asam dan polutan berasal dari pencemar yang sebelumnya berada di atmosfer.
“Sebaiknya hujan pertama setelah kebakaran hutan airnya jangan dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga,” ucapnya. (LP14/red)











