MANOKWARI, LinkPapua.id – Ketua Cabor FASI/Aero Sport Papua Barat Mohamad Lakotani meminta pembenahan sistem pembinaan olahraga menjadi agenda Musorprovlub KONI Papua Barat. Dia menilai forum tersebut harus menghasilkan arah pembinaan olahraga yang lebih terukur untuk empat tahun ke depan.
Lakotani mengatakan dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan olahraga selama ini sudah cukup optimal. Namun, dukungan tersebut belum sepenuhnya dikelola dengan baik sehingga masih menimbulkan persoalan dalam pembinaan dan keikutsertaan atlet pada event nasional.
“Dukungan pemerintah daerah optimal, namun tidak dikelola dengan baik sehingga menimbulkan kewalahan ketika ada event seperti PON. Akibatnya atlet yang ikut juga mengalami kesulitan untuk kembali ke daerah,” ujar Lakotani dalam kegiatan silaturahmi persiapan Musorprovlub KONI Papua Barat di Swiss-belhotel, Manokwari, Selasa (18/8/2026).
Dia menilai persoalan tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama. Musorprovlub KONI Papua Barat tidak boleh hanya menjadi forum pergantian kepengurusan, tetapi juga harus menghasilkan arah baru pembinaan olahraga.
“KONI adalah rumah besar bagi seluruh cabor yang ada. KONI juga yang memfasilitasi seluruh cabor. Oleh karena itu, masing-masing cabor harus membuktikan prestasinya,” katanya.
Menurut Lakotani, setiap cabang olahraga perlu diberikan ruang untuk mengembangkan program dan atletnya. Dia juga mendorong setiap cabor memiliki program pembinaan yang jelas serta mendapat kesempatan mengikuti event olahraga tingkat daerah.
Event tersebut, kata dia, penting untuk mengukur kemampuan atlet sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi kompetisi yang lebih besar. Papua Barat dinilai tidak kekurangan atlet berbakat, tetapi pembinaan masih perlu diperkuat dan dilakukan secara berkelanjutan.
“Musyawarah olahraga KONI Papua Barat ini harus menjadi momentum untuk memperbaiki pembinaan olahraga untuk empat tahun ke depan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti) Papua Barat Melkias Werinussa meminta setiap cabor memanfaatkan ruang pembinaan dengan baik. Dia juga meminta prestasi menjadi ukuran dari pembinaan yang dilakukan.
Werinussa menyoroti evaluasi setelah pelaksanaan berbagai event olahraga yang dinilai belum optimal. Menurutnya, evaluasi perlu dilakukan secara berkala agar kekurangan yang ditemukan dapat segera diperbaiki.
Dia juga menyinggung penggunaan atlet dari luar Papua Barat dalam sejumlah event. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian agar pembinaan atlet lokal dapat diperkuat.
“Selama ini kita turut menggunakan atlet dari luar, namun mereka yang mendapatkan manfaat. Karena itu, pembinaan atlet kita sendiri harus diperkuat,” sebutnya.
Werinussa menekankan pembinaan atlet perlu dilakukan sejak usia dini sebagai persiapan menghadapi berbagai event olahraga, termasuk PON. Menurutnya, pembinaan tidak harus berorientasi pada hasil instan karena atlet yang belum siap dapat dipersiapkan untuk kompetisi berikutnya.
“Jika tahun ini atlet kita belum siap, kita bisa ikut tahun depannya. Namun pembinaan ini harus terus berlanjut,” ucapnya. (LP14/red)
