Simposium Flora Malesiana, Masyarakat Adat Disebut Kunci Jaga Iklim di Papua

Published on

MANOKWARI, LinkPapua.id – Masyarakat adat memiliki peran paling strategis sebagai garda terdepan dalam melindungi benteng hijau terakhir di tanah Papua dari ancaman perubahan iklim. Praktik kearifan lokal yang mereka terapkan selama berabad-abad terbukti menjadi kunci keberhasilan menjaga ekosistem hutan tetap utuh.

Pernyataan itu disampaikan CEO Yayasan EcoNusa, Bustar Maitar pada Simposium Internasional Flora Malesiana ke-12 dan Konferensi Solusi Iklim Berbasis Alam di Gedung PKK Manokwari, Senin (9/2/2026). Dia Ia menilai pengakuan hak kelola masyarakat lokal adalah solusi konkret dalam menghadapi krisis kehilangan keanekaragaman hayati global.

“Masyarakat adat adalah penjaga utama hutan. Ketika hak-hak mereka diakui dan wilayah kelola mereka dilindungi, maka upaya menjaga iklim dan keanekaragaman hayati akan jauh lebih efektif,” ujarnya.

Bustar menilai Papua memegang posisi strategis dalam mitigasi perubahan iklim global berkat luasnya kawasan hutan yang masih terjaga. Baginya, perlindungan wilayah adat dan penguatan hak kelola masyarakat lokal adalah kunci mutlak untuk menjamin keberlanjutan lingkungan.

Saat ini, sekitar 70 hingga 80 persen daratan Papua masih berupa hutan alami yang berfungsi sebagai penyerap karbon (carbon sink) raksasa. Luasnya hutan yang masih terjaga ini menempatkan Papua pada posisi tawar strategis dalam upaya mitigasi perubahan iklim dunia.

Rendahnya angka deforestasi di tanah Papua tidak bisa dilepaskan dari peran besar sistem pengelolaan tradisional yang dilakukan komunitas lokal. Upaya perlindungan wilayah adat pun harus berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Forum ilmiah berskala internasional ini diikuti sekitar 300 peserta yang mencakup peneliti dan perwakilan dari 16 negara. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan melahirkan rekomendasi kebijakan yang menempatkan hak-hak adat sebagai prioritas utama pembangunan.

Melalui simposium ini, sinergi antara sains dan pengetahuan lokal diharapkan mampu menjawab tantangan krisis lingkungan global. Masyarakat adat bukan sekadar objek, melainkan penentu masa depan kelestarian alam di Bumi Cenderawasih. (LP14/red)

Latest articles

TNI Resmikan Hitadipa Intan Jaya Jadi Kampung Papua Damai

0
INTAN JAYA, LinkPapua.id – Koops TNI Habema meresmikan Kampung Hitadipa sebagai Kampung Papua Damai di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Deklarasi tersebut menjadi bagian...

More like this

1.813 Mahasiswa Baru Ikuti PKKMB Unipa 2026, Pecahkan Rekor MuRI Mahkota dan Noken

MANOKWARI, LinkPapua.id – Sebanyak 1.813 mahasiswa baru mengikuti PKKMB Universitas Papua (Unipa) 2026 yang...

OJK Ungkap 1.033 Laporan Penipuan Transaksi Keuangan di Papua Barat dan Papua Barat Daya

MANOKWARI, LinkPapua.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap 1.033 laporan penipuan transaksi keuangan di...

Pengacara Desak Polisi Naikkan Kasus Kematian Yanto Idorway ke Penyidikan, Duga Ada Unsur Perencanaan

MANOKWARI, LinkPapua.id – Tim pengacara keluarga Yanto Idorway mendesak polisi meningkatkan penanganan kasus kematian...