MANOKWARI, LinkPapua.id – Pihak SMA Taruna Nusantara Kasuari Manokwari, Papua Barat, mengambil langkah tegas dengan merumahkan 60 orang siswa. Keputusan ini menyusul aksi penganiayaan massal yang menyasar ratusan siswa junior di lingkungan sekolah tersebut.
“60 siswa sudah kita keluarkan (rumahkan) tadi mereka keluar dengan koper,” kata Kepala SMA Taruna Nusantara Yusuf Ragainaga kepada wartawan, Kamis (23/4/2026).
Yusuf menjelaskan para siswa tersebut merupakan terduga pelaku penganiayaan terhadap adik kelas mereka. Pihak sekolah juga menyatakan kesediaan untuk mengevaluasi total pola asrama yang selama ini berlaku di SMA Taruna.
Peristiwa kekerasan tersebut bermula saat sekitar lebih dari seratus siswa kelas X tengah belajar menghadapi ujian sekolah. Para senior tiba-tiba mendatangi dan menghajar para junior hingga mengakibatkan sejumlah korban menderita patah tulang dan sakit pada bagian rusuk.
Ketua Paguyuban Siswa Angkatan V SMA Taruna Nusantara Markus Waran mengecam keras tindakan anarkis para pelaku. Dia menyoroti keberadaan senjata tumpul yang seharusnya tidak berada di dalam area pendidikan.
“Yang kita heran kenapa ada alat-alat seperti itu dilingkungan sekolah,” ujar Markus.
Markus mempertanyakan alasan keberadaan alat menyerupai doka atau besi di lingkungan sekolah. Para pelaku menggunakan alat-alat tersebut untuk melukai para junior saat insiden terjadi.
Kepala Dinas Pendidikan Papua Barat Barnabas Dowansiba juga langsung mendatangi sekolah usai insiden pecah. Dia meminta para orang tua segera membawa anak-anak mereka untuk menjalani prosedur medis.
“Pihak Dinas menyarankan kepada orangtua, untuk melakukan visum terhadap anak-anak korban pemukulan agar dari hasil visum ini dilakukan proses lebih lanjut,” tegas Barnabas.
Barnabas memastikan Dinas Pendidikan akan bersikap adil dan tidak membiarkan aksi pengeroyokan tersebut. Dia menyesalkan banyaknya kejadian di luar batas kewajaran yang menimpa siswa di sekolah berpola asrama itu.
“Pelaku dalam insiden ini harus di proses dan sesuai dengan aturan perundang-undangan dan hukum yang berlaku. Dan pelaku harus bertanggung jawab sesuai dengan perbuatan yang dilakukan,” lanjut Barnabas.
Dinas Pendidikan juga menyatakan komitmen penuh untuk menanggung seluruh biaya perawatan korban. Barnabas menjamin pihak pemerintah bertanggung jawab atas pengobatan para siswa yang terluka.
Seorang siswa korban berinisial A menceritakan detik-detik mencekam saat para senior merangsek masuk ke area belajar mandiri. Siswa kelas X yang menyebar di ruang kelas dan taman sekolah tidak menduga akan mendapat serangan fisik.
“Saya di dalam ruangan kelas sementara belajar tiba-tiba Kaka dorang masuk suruh taruh buku,” beber korban A.
A mengalami luka robek pada bagian bibir akibat hantaman benda tumpul milik senior. Dia mengaku mendapat serangan bertubi-tubi pada area vital di bagian kepala.
“Saya dapat pukul pertama di bagian kepala lalu didepan muka,” tutur A.
Siswa lain menyebutkan kelompok senior sengaja mematikan lampu ruangan kelas sebelum melakukan aksi pengeroyokan. Siswa yang berada di halaman taman juga dipaksa masuk ke dalam ruangan untuk dianiaya secara bersama-sama.
“Kitorang sempat melakukan perlawanan tapi kalah jumlah,” beber salah satu siswa korban lainnya.
Kondisi semakin memanas saat puluhan orang tua siswa mendatangi lokasi sekolah di kawasan BLK Manokwari. Para orang tua yang emosi menerobos pagar sekolah yang terkunci rapat untuk mencari para pelaku.
“Saa dapat kabar dari anak laki-laki tadi malam jam 8 malam,” ucap salah satu orang tua korban di lokasi kejadian.
Orang tua tersebut menyayangkan sikap senior yang tidak menghargai rasa hormat para junior. Dia mendesak pihak manajemen sekolah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan di sana.
“Anak-anak ini selalu hormat dorang punya senior, tapi dorang punya senior tidak pernah tanggapi,” pungkasnya.
Hingga kini, para orang tua korban telah resmi melaporkan kasus ini ke Polresta Manokwari. Mereka menyerahkan laporan polisi (LP) pada Kamis (23/4) untuk menuntut keadilan bagi anak-anak mereka. (LP2/red)
