Angka Putus Sekolah di Papua Barat 68.988 Anak, Manokwari Tertinggi

Published on

SORONG, Linkpapua.com – Akademisi Universitas Papua, Agus Irianto Sumule, memaparkan presentasi serius mengenai kondisi anak tidak mengenyam pendidikan di Provinsi Papua Barat.

Dia menjelaskan, total keseluruhan anak putus sekolah se- Papua Barat mencapai 68.988 anak. Pemetaan angka anak putus sekolah di wilayah Papua Barat, terbagi manjadi dua wilayah, yakni Bomberai dan Domberai

Bomberai mencakup Kabupaten Fakfak, Kaimana, dan Teluk Bintuni. Wilayah adat ini, Teluk Bintuni merupakan penyumbang terbesar anak tidak sekolah sebanyak 5.598 anak.

Selanjutnya, Kaimana dengan jumlah anak tidak bersekolah sebanyak 4.588 dan Fakfak sebanyak 4.318 anak tidak bersekolah.

Baca juga:  UMP Papua Barat 2021 tetap, sektor Migas naik jadi Rp 5 juta

Sementara, di wilayah Domberai yang mencakup Kabupaten Manokwari, Pegunungan Arfak, Manokwari Selatan, Kabupaten Sorong, Raja Ampat, Teluk Wondama, Tambrauw, Kota Sorong, dan Kabupaten Sorong Selatan.

Manokwari merupakan penyumbang terbesar angka anak tidak bersekolah sebanyak 12. 804 anak. Kemudian Pegunungan Arfak dengan 8.508 anak tidak bersekolah, sedangkan di urutan ketiga Kota Sorong dengan jumlah 6.577 anak tidak bersekolah.

“Penyumbang anak putus sekolah terendah adalah Kabupaten Tambrauw dengan angka 1.061 anak tidak bersekolah. Total keseluruhan anak putus sekolah se-Provinsi Papua Barat, 68.988 anak putus sekolah,” jelasnya dalam pelaksanaan Rapat Kerja (Raker) Bupati/Wali Kota di Kabupaten Sorong, Kamis (20/10/2022).

Baca juga:  Gubernur Dominggus Lantik 33 Pejabat Baru Administrator-Fungsional Pemprov Papua Barat

Agus Sumule menyebut, terdapat tiga hal penting yang perlu dilakukan dalam mengatasi permasalahan pendidikan. Kata dia, memberikan hak pendidikan anak, pendidikan dewasa, dan pembenahan tenaga guru.

“Kalau kita bicara pendidikan di mana pun di dunia ini, ada tiga hal, yaitu hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang layak sesuai Undang-Undang Dasar 1945. Serta berbicara tentang penduduk dewasa, berapa rata-rata pendidikan penduduk dewasa. Kemudian masalah ketiga, yaitu bagaimana situasi guru, karena gurulah yang menyelesaikan masalah ini. YouTube tidak bisa mengatasi masalah pendidikan, kecuali guru,” bebernya.

Baca juga:  Ketua DPD PAPPRI Papua Barat Serahkan Dana Apresiasi Kepada Sejumlah Musisi

Menyikapi hal tersebut, Penjabat Gubernur Papua Barat, Paulus Waterpauw, menyatakan Raker Bupati/Wali Kota merupakan sarana penting untuk membahas hal ini. Kata dia, wajib mencari solusi atas banyaknya faktor penyebab angka anak putus sekolah di Papua Barat yang menyentuh jumlah sangat besar.

Dasar pendidikan juga berpengaruh pada bekal masa depan guna menekan angka pengangguran di daerah.  “Banyak anak-anak asli Papua yang putus sekolah dari data 68.988 anak putus sekolah. Jadi, kita mau diskusikan dengan para bupati/wali kota untuk mencari solusi,”ujarnya. (LP9/Red)

Latest articles

MUI: Pria Berbusana Wanita dalam Karnaval Agustusan Hukumnya Haram

0
JAKARTA, LinkPapua.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan pria yang mengenakan pakaian wanita, termasuk saat mengikuti karnaval agustusan, hukumnya haram dalam syariat Islam. MUI...

More like this

Kodam XVIII/Kasuari Siap Dukung Festival Raimuti Jadi Agenda Tahunan

MANOKWARI, LinkPapua.id – Kodam XVIII/Kasuari siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk melanjutkan Festival Raimuti...

Suami di Manokwari Laporkan Istri dan Oknum Komisioner KPU ke Polisi Dugaan Perzinaan

MANOKWARI, LinkPapua.id – Seorang suami berinisial R melaporkan istrinya, TJ, dan AM yang disebut...

Ekonomi Papua Barat Tumbuh 3,41 Persen, PDRB Tembus Rp21.113,16 Miliar

MANOKWARI, LinkPapua.id – Ekonomi Papua Barat tumbuh 3,41 persen secara tahunan (year on year/y-on-y)...