MANOKWARI, LinkPapua.id – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Papua Barat mendorong masyarakat mengolah sampah rumah tangga dan rumput menjadi pupuk kompos untuk mengurangi pembakaran sampah pemicu kabut asap. Upaya ini dilakukan melalui pelatihan pengolahan kompos dan teknologi tepat guna bagi Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (Posyantek) Maju Makmur Papua.
Pelatihan tersebut berlangsung selama 2 hari di Aston Niu Hotel Manokwari dan ditutup pada Kamis (22/10/2026). Kegiatan itu menjadi bagian dari implementasi program prioritas Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, yakni Papua Barat Produktif.
“Saat ini Papua Barat menghadapi masalah bencana kabut asap akibat pembakaran sampah rumah tangga dan rumput, apalagi saat musim panas dan El Nino. Lewat pelatihan ini kita ajarkan bagaimana sampah rumput dan sampah rumah tangga itu tidak dibakar, tapi diolah jadi pupuk kompos,” ujar Kepala DPMK Papua Barat, Legius Wenimbo, saat ditemui wartawan, Jumat (23/10/2026).
Untuk memperkuat pemahaman peserta, DPMK menghadirkan dosen Universitas Papua (Unipa), Pramono, sebagai narasumber. Peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga mempraktikkan pembuatan alat pengolah sampah berbasis teknologi tepat guna.
Legius mengatakan pelatihan tersebut diharapkan dapat dikembangkan di 7 kabupaten di Papua Barat. Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan potensi dan persoalan lingkungan di masing-masing daerah.
“Di Papua Barat saat ini baru ada dua Posyantek, salah satunya Posyantek Maju Makmur ini yang anggotanya 20 orang. Kami harap satu kelompok ini bisa jadi pemicu dan memberikan dampak positif bagi kelompok lain di tujuh kabupaten lainnya seperti Teluk Bintuni, Wondama, Fakfak, dan Kaimana,” jelasnya.
Menurut Legius, pengolahan sampah menjadi kompos dapat membantu menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mengurangi risiko penyakit. Risiko tersebut antara lain berkaitan dengan rumput tinggi dan tumpukan sampah di sekitar permukiman.
Selain mengurangi kebiasaan membakar sampah, pengolahan kompos juga dapat menghasilkan pupuk untuk menyuburkan tanaman. Hasil pertanian dari penggunaan pupuk tersebut dapat dikonsumsi sendiri atau dijual untuk menambah pendapatan masyarakat.
“Jadi permasalahan dan juga manfaat itu seperti mengurangi risiko penyakit akibat rumput tinggi atau tumpukan sampah. Sampah rumah tangga dapat didaur ulang menjadi pupuk kompos yang menyuburkan tanaman. Serta hasil panen dari pemanfaatan pupuk tersebut dapat dikonsumsi maupun dijual untuk meningkatkan nilai ekonomi masyarakat,” ucapnya. (LP14/red)












