MANOKWARI, LinkPapua.id – Bupati Manokwari Hermus Indou mengusulkan pembangunan Jalan Drs Esau Sesa–Maruni, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, dilakukan secara terpadu. Dia menargetkan peningkatan jalan tersebut bersama penyelesaian terminal Bandara Rendani rampung pada 2029.
Hermus menyampaikan usulan itu kepada Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan. Dia meminta pemerintah provinsi dan pusat mendukung dua proyek tersebut melalui pembiayaan lintas pemerintahan.
“Kami memberikan apresiasi kepada Gubernur Papua Barat atas perhatian terhadap pembangunan infrastruktur. Harapan kami, Manokwari harus dibangun terlebih dahulu karena merupakan ibu kota provinsi. Dua infrastruktur strategis ini harus kita tuntaskan dalam tiga tahun ke depan,” ujar Hermus dalam pertemuan rencana pembangunan infrastruktur strategis di Aston Niu Hotel, Manokwari, Rabu (4/11/2026).
Hermus mengusulkan kedua proyek dikerjakan bertahap pada 2027-2029. Menurutnya, pembangunan Jalan Drs Esau Sesa–Maruni harus mencakup penataan kawasan perkotaan, bukan sekadar pelebaran badan jalan.
Dia mengusulkan pembangunan jalan dua jalur yang dilengkapi trotoar modern, drainase, ruang terbuka hijau, serta jaringan utilitas. Penataan itu juga harus mencakup jaringan air bersih, listrik, dan telekomunikasi agar tidak perlu dibongkar kembali setelah jalan selesai dibangun.
“Jangan sampai kita hanya membangun jalan, tetapi fasilitas pendukungnya tidak disiapkan. Harus ada drainase yang baik, trotoar, ruang terbuka hijau, serta penataan jaringan air, listrik dan telekomunikasi. Semua harus terintegrasi supaya tidak dibongkar kembali ketika pembangunan sudah selesai,” katanya.
Hermus juga meminta pemerintah memperhatikan jaringan intake air di kawasan Maruni. Perencanaan teknis sejak awal diperlukan agar pekerjaan peningkatan jalan tidak mengganggu jaringan tersebut dan memicu pemborosan anggaran.
Selain itu, Hermus mengusulkan pembagian pembangunan jalan ke dalam beberapa segmen. Skema itu diharapkan membuat pekerjaan lebih efisien dan menyesuaikan kondisi bangunan di sepanjang ruas jalan.
Dia menyarankan pelebaran jalan memanfaatkan area parit dan halaman depan untuk menekan kebutuhan pembebasan lahan. Pelebaran dua jalur juga tidak harus dilakukan pada kedua sisi jalan.
“Tidak mesti harus dilebarkan kiri dan kanan kita bisa lebarkan pada bagian tertentu ke kiri saja lalu dijadikan dua jalur dan begitu sebaliknya ada yang kita lebarkan ke kanan saja. Ini demi menekan anggaran pembebasan lahan,” tuturnya.
Hermus mencontohkan pelebaran ke sisi kiri pada segmen STT Sowi hingga Tanjung Wasidori. Skema serupa diusulkan untuk ruas dari Jembatan Andai hingga Maruni.
Dia juga meminta penataan kawasan sekitar bandara diselaraskan dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Penyediaan ruang terbuka hijau perlu masuk dalam perencanaan kawasan tersebut.
Di sisi lain, Hermus mendorong pemerintah pusat membantu pembiayaan pembebasan lahan dan penanganan kawasan laut. Kebutuhan itu berkaitan dengan rencana pengembangan serta reklamasi Teluk Rendani.
“Pembangunan ini membutuhkan dukungan bersama. Pemerintah daerah akan mengambil bagian sesuai kemampuan anggaran, tetapi dukungan pemerintah provinsi dan pusat sangat dibutuhkan, terutama untuk pembebasan lahan dan penanganan kawasan yang menjadi bagian dari rencana pengembangan,” ungkapnya.
Hermus menilai peningkatan Jalan Drs Esau Sesa–Maruni menjadi investasi jangka panjang bagi perkembangan Manokwari. Dia menyebut jalan tersebut sebagai salah satu wajah ibu kota Papua Barat yang menunjang kebutuhan masyarakat sekitar 200 ribu jiwa.
Karena itu, Hermus berharap pemerintah provinsi dan pusat menindaklanjuti usulan tersebut melalui koordinasi teknis dan dukungan anggaran. Dia ingin penyelesaian terminal Bandara Rendani dan peningkatan Jalan Drs Esau Sesa–Maruni masuk prioritas pembangunan Papua Barat hingga 2029. (LP14/red)












