MANOKWARI, LinkPapua.id – Yayasan Jamal Papua mengembangkan lembaga pendidikan Umul Quro dari pendidikan nonformal hingga mendirikan Sekolah Dasar Islam Tahfiz Quran (SDITQ) Umul Quro di Manokwari, Papua Barat. Sekolah tersebut mengedepankan pembelajaran adab, hafalan Al-Qur’an, serta penguasaan bahasa sejak kelas 1.
“Sebelum ada lembaga SDIT, telah diawali dengan lembaga nonformal melalui perjuangan panjang . Pemberian nama Umul Quro punya sejarah sendiri sejak 2015. Perjalanan memerlukan kelompokan tim. Harus miliki jiwa militan. Agar program bisa jalan, bukan tinggal nama,” kata Ketua Yayasan Jamal Papua, Ustad Amir, saat peresmian gedung SDITQ Umul Quro di Manokwari, Sabtu (10/10/2026).

Amir mengatakan, Yayasan Jamal Papua memulai kegiatan pendidikannya pada 2015 melalui lembaga nonformal. Seiring perkembangannya, yayasan membentuk sejumlah divisi pendidikan, termasuk Tahsin Quran, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), dan Tahfidzul Quran.
Divisi Tahsin Quran kini memiliki 266 peserta, sedangkan TPA menampung 166 santri aktif. Adapun divisi Tahfidzul Quran yang menjadi divisi tertua memiliki 115 peserta aktif.
“Tahfidzul Quran adalah devisi tertua dengan115 peserta aktif hingga saat ini. Mendirikan lembaga ini, kami lakukan berdasarkan Al Quran,” ujarnya.
Yayasan Jamal Papua menaungi SDITQ Umul Quro dan TKIT Umul Quro. Perkembangan lembaga tersebut menjadi bagian dari upaya yayasan memperluas layanan pendidikan formal dan nonformal di Manokwari.
Utamakan Adab dan Hafalan Al-Qur’an
Kepala SDITQ Umul Quro, Ustad Patra Sabang Prakoso, mengatakan sekolah berkomitmen mencetak generasi yang cerdas dan berkarakter. Pembelajaran adab ditempatkan pada awal kegiatan belajar sebelum siswa mendalami materi pelajaran.
“Penekanan di SDITQ Umul Quro adalah pembelajaran adab, pembelajaran ini full di awal waktu pembelajaran. Ilmu akan bisa diperoleh apa bila adab sudah terbersit di dalam hati. Ini sesuai dengan komitmen sekolah,” ungkap Patra.
Sekolah juga mengajarkan bahasa Inggris dan bahasa Arab sejak kelas 1. Siswa ditargetkan mempelajari satu kosakata setiap hari untuk mendukung kemampuan berbahasa mereka.
“Target hingga kelas 6 minimal tiga zuz sudah selesai. Kita juga merutinkan kegiatan tahfidz setiap hari hafal baru dan murojjah. Allhamdulillah kegiatan belajar sudah 2 tahun berjalan, angkatan pertama saat ini sudah tingkat kelas 2,” jelasnya.
Untuk menunjang kegiatan belajar, sekolah menyediakan ruang kelas berpendingin udara dan fasilitas multimedia. Kelas siswa laki-laki dan perempuan juga dipisahkan sejak kelas 1.
“Sejak kelas 1, murid tidak bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Kita pisahkan kelasnya. Sekolah juga mendorong ke depannya ada laboratorium bahasa dan IT sudah bisa dimaksimalkan. Sehingga kolaborasi tidak saja sekolah jalan sendiri tetapi bisa dengan sekolah non formal di lingkup Yayasan Jamal Papua,” tuturnya.
Selain menjalankan pembelajaran rutin, SDITQ Umul Quro telah mengikuti lomba ceramah tingkat nasional dan meraih sejumlah juara di tingkat daerah dalam Festival Anak Saleh Indonesia (FASI). Sekolah berharap dapat mengembangkan fasilitas pendukung, termasuk laboratorium bahasa dan teknologi informasi.
Pemkab Manokwari Terapkan Pendidikan Gratis
Wakil Bupati Manokwari Mugiyono mengatakan keberhasilan pendidikan membutuhkan kolaborasi pemerintah daerah, orang tua, pengelola yayasan, dan masyarakat. Menurutnya, pembangunan gedung sekolah perlu diikuti dukungan bersama agar kegiatan pendidikan berjalan dengan baik.
“Kebersamaan pemerintah daerah, orang tua, pengelola atau yayasan, masyarakat, tidak bisa dipisahkan untuk suksesnya sebuah lembaga pendidikan. Gedung megah yang ada saat ini adalah sarana penunjang. Biaya pendidikan yang bersumber dari orang tua, bukan satu-satu sumber pendukung. Pemda punya kokitmen untuk sukses pendidikan,” tegas Mugiyono.
Pemkab Manokwari telah menetapkan program pendidikan gratis bagi siswa baru di sekolah negeri maupun swasta. Mugiyono menjelaskan, sekolah swasta yang terdaftar dapat menerima bantuan tersebut, termasuk madrasah.
Sekolah swasta masih dapat memungut biaya tambahan apabila bantuan pemerintah daerah belum mencukupi kebutuhan pendidikan. Sementara itu, sekolah negeri tidak diperbolehkan menarik pungutan tambahan.
“Harus mendukung keberadaan lembaga ini, karena ini sarana yang mencerdaskan generasi kita melalui sekolah swasta. Kehadiran ini bukti andil dukungan semangat kepada SDITQ Umul Quro. Tanggung jawab moral bahwa kehadiran ini akan membawa kebaikan. Semua kita punya kewajiban dukung dan sukses pendidikan,” tambah Mugiyono.
Mugiyono juga mengapresiasi pendiri dan pengurus Yayasan Jamal Papua atas kontribusi mereka dalam mengembangkan pendidikan berbasis keagamaan. Dia berharap semangat pengelola dapat menjaga keberlanjutan lembaga dan memperluas kesempatan belajar bagi masyarakat.
“Harapannya lembaga ini bisa sampai jenjang SMP dan SMA. Ini hal luar biasa. Masih ada ruang bagi semua untuk mendapatkan pahala. Kolaborasi penting untuk menghasilkan sesuatu yang baik. Pendidikan itu investasi jangka panjang untuk hasilkan generasi yang mumpuni,” ucap Mugiyono.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Subbagian Umum Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Papua Barat, Eko Setiadi, menekankan pentingnya kerja sama berbagai pihak untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan. BGTK berperan mendukung peningkatan sumber daya manusia, khususnya kompetensi tenaga pendidik.
“Kehadiran BGTK adalah sebuah lembaga teknis yang mendukung pelaksanaan kegiatan yang mendukung peningkatan SDM, khususnya dalam menjaga kompetensi tenaga pendidik dalam mewujudkan ekosistem pendidikan di Manokwari, Papua Barat,” sebutnya.
Peresmian gedung SDITQ Umul Quro ditandai dengan pengguntingan pita bersama oleh Wakil Bupati Mugiyono, Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Manokwari Valentina Hammar, pendiri Yayasan Jamal Papua Jamal Wahid, Ketua Yayasan Amir, dan Kepala SDITQ Umul Quro Patra Sabang Prakoso. Prosesi tersebut menjadi penanda penggunaan gedung sekolah untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar. (*/red)











