MANOKWARI, Linkpapua.id-Angka prevalensi stunting di Kabupaten Manokwari hingga pertengahan 2026 masih berada di bawah target nasional sebesar 14,2 persen. Pemerintah Kabupaten Manokwari pun menyiapkan pembangunan Rumah Gizi sebagai pusat penanganan stunting yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun depan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari, Alexander Tadare, mengatakan berdasarkan data tahun 2025 prevalensi stunting di Manokwari tercatat sebesar 10,2 persen. Sementara hingga pertengahan 2026, angka sementara berada di kisaran 11,7 persen dan masih dapat berubah karena berbagai intervensi terus dilakukan.
”Target nasional itu 14,2 persen. Tahun 2025 kita berada di angka 10,2 persen, sedangkan tahun ini masih berproses. Data sementara sekitar 11,7 persen, namun masih terus dilakukan intervensi sehingga angkanya masih bisa berubah,” kata Alexander di Manokwari, Senin (20/7/2026).
Alexander menegaskan penanganan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan, melainkan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak, di antaranya Tim Penggerak PKK, Tim Pembina Posyandu, serta organisasi perangkat daerah terkait.
Menurutnya, seluruh pihak tersebut memiliki peran dalam upaya pencegahan maupun penanganan anak yang mengalami stunting sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan berkelanjutan.
Sebagai upaya memperkuat penanganan, Pemerintah Kabupaten Manokwari telah menetapkan pembangunan Rumah Gizi sebagai salah satu program prioritas yang akan direalisasikan pada tahun depan.
”Rencana pembangunan Rumah Gizi sudah final. Tahun depan penanganan stunting akan kita pusatkan di satu tempat sehingga intervensinya bisa dilakukan secara maksimal sampai berat badan anak meningkat,” ujarnya.
Alexander juga menjelaskan, kenaikan angka stunting pada data sementara tahun ini tidak sepenuhnya menunjukkan bertambahnya jumlah anak stunting. Sebagian kasus yang tercatat merupakan anak dengan kondisi gizi kurang yang dalam sistem aplikasi nasional otomatis masuk dalam kategori stunting.
Ia mencontohkan sejumlah kasus yang ditemukan di wilayah Nuni. Berdasarkan pemeriksaan petugas di lapangan, anak-anak tersebut lebih tepat dikategorikan mengalami gizi kurang. Namun ketika data dimasukkan ke dalam aplikasi, sistem mengelompokkannya sebagai stunting sehingga memengaruhi angka prevalensi.
”Kalau kita lihat secara manual, sebenarnya itu gizi kurang. Tetapi ketika diinput ke aplikasi, langsung masuk kategori stunting. Hal seperti ini cukup memengaruhi data yang muncul,” jelasnya.
Meski demikian, Dinas Kesehatan memastikan seluruh anak yang mengalami stunting maupun gizi kurang tetap mendapatkan penanganan sesuai kondisi masing-masing. Intervensi dilakukan di seluruh wilayah tanpa memusatkan penanganan pada distrik tertentu.
Ke depan, keberadaan Rumah Gizi diharapkan mampu memperkuat koordinasi lintas sektor sehingga seluruh proses penanganan, mulai dari pemeriksaan kesehatan, pemenuhan gizi, hingga pendampingan keluarga dapat dilakukan secara terpadu.(LP3/Red)









