Konferensi GPKAI 2026, Gubernur Papua Barat Minta Evaluasi Pelayanan

Published on

MANOKWARI, LinkPapua.id – Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan berpesan agar konferensi gereja tidak sekadar menjadi ritual tahunan yang bersifat seremonial. Gereja dituntut melakukan evaluasi agar kehadirannya benar-benar menjadi solusi nyata bagi keluarga Papua yang tengah dihimpit berbagai persoalan sosial.

Pernyataan itu disampaikan Dominggus saat membuka Konferensi Majelis Umum GPKAI se-Indonesia di Prafi, Manokwari, Jumat (2/1/2026). Dia menegaskan gereja harus berani keluar dari zona nyaman ruang ibadah untuk menyentuh langsung akar permasalahan di tengah masyarakat.

“Evaluasi apa yang sudah dikerjakan dan apa yang gagal. Sesuaikan dengan kemampuan dan tanggung jawab bersama, termasuk dengan pemerintah. Gereja tidak boleh lepas tangan dari penderitaan umat,” ujarnya.

Baca juga:  RPB Papua Barat Mulai Dikaji, 14 Daerah Diminta Beri Dukungan Data

“Konferensi ini harus hadir untuk menyelamatkan keluarga. Kalau gereja hanya berdoa tanpa tindakan, maka persoalan keluarga akan terus kita wariskan,” lanjutnya.

Dominggus menyoroti lunturnya otoritas orang tua hingga maraknya pengaruh minuman keras yang merusak tatanan keluarga. Sebagai Kepala Suku Besar Arfak, dia meminta seluruh elemen masyarakat meruntuhkan tembok eksklusivisme yang memicu sekat-sekat sosial.

“Saya bicara sebagai Gubernur Papua Barat dan sebagai Kepala Suku Besar Arfak. Semua suku, semua orang yang tinggal di tanah ini adalah satu keluarga besar. Jangan bangun tembok di antara kita,” ucapnya.

Baca juga:  Hari Lahir Pancasila, Pj Gubernur PB: Jiwa Pemersatu Menuju Indonesia Emas 2045

Dia juga memperingatkan warga agar tidak mudah terprovokasi hingga melakukan aksi main hakim sendiri yang justru memperdalam luka sosial. Menurutnya, koordinasi dengan tokoh adat dan pemuka agama adalah kunci dalam meredam setiap potensi konflik.

“Kalau ada masalah, jangan main hakim sendiri. Duduk bersama kepala kampung, tokoh adat, tokoh gereja, kepala suku. Kalau tidak, kita sendiri yang membuat anak-anak takut sekolah dan orang sakit takut berobat,” pesannya.

Baca juga:  Sambut HUT PI, Pemprov-DPD KNPI Papua Barat Gelar Lomba Vokal Grup Lagu Gerejawi

Mantan Bupati Manokwari ini juga mengajak jemaat merenungkan kembali sejarah besar masuknya Injil di Pulau Mansinam pada 1855 silam. Baginya, perilaku negatif seperti konflik dan mabuk-mabukan adalah bentuk nyata pengkhianatan terhadap sejarah peradaban Papua.

“Dari doa pertama di Mansinam, Papua keluar dari kegelapan. Kalau hari ini kita kembali ke konflik, mabuk-mabukan, dan saling curiga, itu berarti kita sedang mengkhianati sejarah kita sendiri,” pungkasnya. (LP14/red)

Latest articles

Kadistrik Taroi Laporkan Karhutla Meluas di Lahan Gambut Bintuni, Keluhkan Alat...

0
TELUK BINTUNI, LinkPapua.id – Kepala Distrik (Kadistrik) Taroi Donald R Kutanggas melaporkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang meluas di wilayah Distrik Taroi, Kabupaten...

More like this

Final ‎SMAKVILL Basket Ball Manokwari, Perbasi Sebut Wadah Penting Jaring Atlet sejak Dini

MANOKWARI, LinkPapua.id – Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Papua Barat...

Gubernur Dominggus Lantik Prof Charlie Jadi Kepala Bappeda Papua Barat, Tekankan Perencanaan Berbasis Data

MANOKWARI, LinkPapua.id – Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan melantik Prof Charlie Danny Heatubun sebagai...

Demi Masa Emas Anak, Gubernur Papua Barat Dorong Akses PAUD Merata-Terjangkau ke Pelosok

MANOKWARI, LinkPapua.id – Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mendorong layanan pendidikan anak usia dini...