MANOKWARI, LinkPapua.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat menyalurkan 80 mesin jahit kepada masyarakat dan ibu-ibu PKK di empat kabupaten. Pemprov juga menyerahkan 8 antropometri kit untuk posyandu di dua kabupaten guna mendukung pemberdayaan masyarakat dan kegiatan ekonomi produktif di kampung.
“Bantuan mesin jahit yang diserahkan hari ini bukan sekadar bantuan berupa barang. Saya berharap bantuan ini menjadi sarana untuk meningkatkan keterampilan, membuka peluang usaha, menciptakan pendapatan, dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat,” ujar Staf Ahli Gubernur Papua Barat Bidang Kemasyarakatan dan SDN Nency Titty Lidya Wyzer saat mewakili gubernur pada kegiatan penyerahan bantuan di Oriestom Bay Hotel Taman Ria, Senin (28/9/2026).
Nency mengatakan bantuan mesin jahit tidak boleh berhenti sebagai pemberian barang. Bantuan tersebut harus dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan, membuka peluang usaha, menciptakan pendapatan dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Dia meminta masyarakat mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh dan tidak sekadar mengejar sertifikat. Peserta diminta mengambil pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dari para instruktur untuk kemudian dikembangkan menjadi kegiatan produktif.
Nency berharap keterampilan menjahit dapat menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi. Produk itu antara lain pakaian, seragam, tas, kerajinan, hingga perlengkapan rumah tangga sesuai kebutuhan masyarakat dan potensi daerah.
Dia menegaskan pekerjaan pemerintah tidak berhenti ketika bantuan diserahkan kepada masyarakat. DPMK Papua Barat diminta memastikan bantuan tersebut terus dimanfaatkan melalui pendampingan dan evaluasi.
“Kepada Dinas DPMK Papua Barat, saya meminta agar kegiatan seperti ini tidak berhenti pada penyerahan bantuan dan pelatihan saja. Perlu dilakukan pendampingan, monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan, sehingga bantuan yang diberikan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Nency berharap program tersebut melahirkan kelompok-kelompok usaha menjahit yang produktif dan berkelanjutan di kampung-kampung Papua Barat. Mesin jahit yang diterima juga diminta tetap digunakan setelah kegiatan pelatihan berakhir.
“Mesin jahit yang diterima jangan hanya digunakan pada saat kegiatan pelatihan, tetapi harus terus dimanfaatkan setelah kegiatan ini selesai,” tegasnya.
Menurut Nency, keterampilan menjahit dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga jika dikelola dengan baik. Kegiatan itu juga dinilai dapat membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lainnya.
Pemerintah berharap masyarakat memiliki keterampilan menjahit dan ibu-ibu PKK mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi. Mesin jahit tersebut juga diarahkan menjadi sarana usaha produktif untuk mendorong tumbuhnya usaha mikro di kampung.
Nency menyebut masyarakat kampung tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penerima program pembangunan. Masyarakat harus menjadi pelaku utama yang mampu mengembangkan potensi dan sumber daya yang dimiliki.
“Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kemauan dan kesungguhan masyarakat untuk memanfaatkannya,” tuturnya.
Kepala DPMK Papua Barat Legius Wanimbo melaporkan bantuan 80 mesin jahit disalurkan kepada empat kabupaten. Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf) menerima 20 mesin jahit, Kaimana 20 mesin, Teluk Bintuni 20 mesin, dan Fakfak 20 mesin.
Selain mesin jahit, DPMK Papua Barat menyerahkan bantuan hibah berupa 8 alat antropometri kit untuk posyandu di kampung. Masing-masing 4 alat dialokasikan untuk Posyandu di Teluk Bintuni dan 4 alat di Pegaf.
Sementara itu, pelatihan jahit-menjahit dilaksanakan selama 3 hari mulai 28 hingga 30 September 2026. Kegiatan berlangsung di Oriestom Bay Hotel Tamanria, Jalan Trikora Wosi Rendani, Manokwari.
“Program pelatihan tersebut diarahkan untuk memberikan keterampilan dan meningkatkan kemampuan masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK di kampung dalam bidang menjahit sekaligus menyediakan sarana pendukung berupa mesin jahit yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif,” jelas Legius. (LP14/red)
