Cerita Gubernur Papua Barat di Balik Berdirinya UNIPA, Sempat Ada Penolakan

Published on

MANOKWARI, LinkPapua.id – Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan buka-bukaan soal sejarah berdirinya Universitas Papua (UNIPA) yang penuh tantangan. Dia mengenang bagaimana resistensi dan penolakan dari berbagai pihak saat kampus tersebut hendak memisahkan diri dari Universitas Cenderawasih (Uncen).

“Waktu itu tantangannya luar biasa. Banyak pihak menolak sehingga perlu upaya serius untuk menyatukan pandangan,” ujar Dominggus saat menghadiri pengukuhan Rektor Universitas Papua Prof Hugo Warami sebagai guru besar di Aula Utama UNIPA, Manokwari, Rabu (14/1/2026).

Baca juga:  Komisi II DPR RI Evaluasi DOB Papua Tengah, Dorong Percepatan Layanan-Infrastruktur

Dominggus menceritakan proses panjang itu bermula pada akhir tahun 2001 saat dirinya masih menjabat sebagai Bupati Manokwari. Gagasan kemandirian kampus muncul setelah adanya diskusi intens bersama Prof Frans Wanggai yang kala itu menjabat sebagai rektor.

“Saya sampaikan, mau tidak mau anak-anak asli Arfak harus mendukung perubahan ini. Kalau kampus tetap seperti itu, orang asli akan terus tertinggal,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut dilontarkan Dominggus untuk membakar semangat para tokoh Arfak agar mendukung perubahan status kampus. Dia merasa miris karena saat itu belum ada satu pun anak asli Arfak yang berhasil meraih gelar sarjana dari Fakultas Pertanian Uncen di Manokwari.

Baca juga:  Satgas RAFI Pertamina Sukses Jaga Penyaluran BBM di Papua-Maluku

“Ini bukti bahwa keputusan itu tidak salah. UNIPA hadir membuka akses pendidikan tinggi bagi orang asli Papua dan saat ini telah banyak orang Arfak yang sarjana dari kampus ini dan menjadi pemimpin-pemimpin di tanah Papua,” tegas Dominggus.

Baca juga:  Pencairan Dana Otsus Papua Barat Terancam Tertunda Imbas Laporan Belum Lengkap

Keberanian mengambil langkah politik tersebut akhirnya membuahkan hasil melalui restu Presiden Megawati Soekarnoputri. Kini, UNIPA telah berdiri mandiri dan melahirkan banyak pemimpin besar bagi Tanah Papua, termasuk tokoh-tokoh dari suku Arfak.

Dominggus menyebut Lasarus Indou sebagai salah satu bukti kesuksesan keputusan besar tersebut. Lasarus merupakan orang Arfak pertama yang meraih gelar sarjana di UNIPA dan kini menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial Papua Barat. (LP14/red)

Latest articles

Bupati Ungkap Paradoks Migas di Teluk Bintuni, Desak Realisasi PI 10...

0
MANOKWARI, LinkPapua.id - Bupati Teluk Bintuni Yohanis Manibuy mengungkap paradoks sektor migas yang menjadi motor utama perekonomian daerah, tetapi belum sepenuhnya memperkuat fiskal dan...

More like this

Pimpinan KKB Bersama 4 Anggota Ditangkap di Keerom, Polisi Sita Senjata-Peluru

KEEROM, LinkPapua.id – Polisi menangkap pimpinan kelompok kriminal bersenjata (KKB) Kodap 1 Mamta berinisial...

Jenazah Sopir Asal Toraja Disandera-Ditembak KKB di Jayawijaya Ditemukan Dalam Mobil Terbakar

JAYAWIJAYA, LinkPapua.id – Sopir lajuran asal Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), bernama Aris Sanda...

KKB Tembak Mati Sopir Lajuran Asal Toraja di Jayawijaya, Sempat Paksa “Promosi” Papua Merdeka

JAYAWIJAYA, LinkPapua.id – Kelompok kriminal bersenjata (KKB) menembak mati seorang sopir lajuran di Kabupaten...