28.1 C
Manokwari
Senin, Februari 9, 2026
28.1 C
Manokwari
More

    Simposium Flora Malesiana, Masyarakat Adat Disebut Kunci Jaga Iklim di Papua

    Published on

    MANOKWARI, LinkPapua.id – Masyarakat adat memiliki peran paling strategis sebagai garda terdepan dalam melindungi benteng hijau terakhir di tanah Papua dari ancaman perubahan iklim. Praktik kearifan lokal yang mereka terapkan selama berabad-abad terbukti menjadi kunci keberhasilan menjaga ekosistem hutan tetap utuh.

    Pernyataan itu disampaikan CEO Yayasan EcoNusa, Bustar Maitar pada Simposium Internasional Flora Malesiana ke-12 dan Konferensi Solusi Iklim Berbasis Alam di Gedung PKK Manokwari, Senin (9/2/2026). Dia Ia menilai pengakuan hak kelola masyarakat lokal adalah solusi konkret dalam menghadapi krisis kehilangan keanekaragaman hayati global.

    Baca juga:  Termasuk Gubernur Papua Barat dan Istri, Universitas Cenderawasih Cetak 1.459 Lulusan Baru

    “Masyarakat adat adalah penjaga utama hutan. Ketika hak-hak mereka diakui dan wilayah kelola mereka dilindungi, maka upaya menjaga iklim dan keanekaragaman hayati akan jauh lebih efektif,” ujarnya.

    Bustar menilai Papua memegang posisi strategis dalam mitigasi perubahan iklim global berkat luasnya kawasan hutan yang masih terjaga. Baginya, perlindungan wilayah adat dan penguatan hak kelola masyarakat lokal adalah kunci mutlak untuk menjamin keberlanjutan lingkungan.

    Baca juga:  Gubernur Papua Barat Bicara Solusi Iklim Berbasis Alam di Simposium Flora Malesiana

    Saat ini, sekitar 70 hingga 80 persen daratan Papua masih berupa hutan alami yang berfungsi sebagai penyerap karbon (carbon sink) raksasa. Luasnya hutan yang masih terjaga ini menempatkan Papua pada posisi tawar strategis dalam upaya mitigasi perubahan iklim dunia.

    Rendahnya angka deforestasi di tanah Papua tidak bisa dilepaskan dari peran besar sistem pengelolaan tradisional yang dilakukan komunitas lokal. Upaya perlindungan wilayah adat pun harus berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Baca juga:  Mughiyono Optimistis SIPD Bisa Cegah Potensi Penyimpangan Anggaran

    Forum ilmiah berskala internasional ini diikuti sekitar 300 peserta yang mencakup peneliti dan perwakilan dari 16 negara. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan melahirkan rekomendasi kebijakan yang menempatkan hak-hak adat sebagai prioritas utama pembangunan.

    Melalui simposium ini, sinergi antara sains dan pengetahuan lokal diharapkan mampu menjawab tantangan krisis lingkungan global. Masyarakat adat bukan sekadar objek, melainkan penentu masa depan kelestarian alam di Bumi Cenderawasih. (LP14/red)

    Latest articles

    Sekda Papua Barat Minta OPD Tancap Gas Jalankan Program Usai Terima...

    0
    MANOKWARI, LinkPapua.id - Sekda Papua Barat Ali Baham Temongmere meminta seluruh OPD tancap gas menjalankan program usai menerima Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) 2026. Dia...

    More like this

    Sekda Papua Barat Minta OPD Tancap Gas Jalankan Program Usai Terima DPA

    MANOKWARI, LinkPapua.id - Sekda Papua Barat Ali Baham Temongmere meminta seluruh OPD tancap gas...

    16 Negara Ikuti Simposium Flora Malesiana di Manokwari, Bahas Solusi Iklim-Pangan

    MANOKWARI, LinkPapua.id - Simposium Internasional Flora Malesiana ke-12 dan Konferensi Solusi Iklim Berbasis Alam...

    Gubernur Papua Barat Bicara Solusi Iklim Berbasis Alam di Simposium Flora Malesiana

    MANOKWARI, LinkPapua.id - Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mewanti-wanti agar pembangunan daerah tidak mengabaikan...