DPR Papua Barat Soroti Krisis Guru-Tenaga Medis di Mansel

Published on

MANOKWARI, LinkPapua.com – Komisi II DPR Papua Barat menyoroti krisis tenaga pendidik dan tenaga medis di Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel). Kondisi ini dinilai menghambat pemenuhan layanan dasar di daerah tersebut.

Wakil Ketua Komisi II DPR Papua Barat, Rudi Sirua, mengungkapkan temuan itu saat melakukan kunjungan lapangan pada Rabu (18/6) lalu. Dia menyebut banyak sekolah di Mansel, seperti SMP Tapis, kekurangan guru hingga terpaksa mengandalkan tenaga kontrak non-ASN.

“Di sana kami temui sebaran tenaga pendidik yang tidak merata. Bahkan, ada tenaga pendidik yang berstatus pegawai kontrak non-ASN,” ujar Rudi, Kamis (27/6/2025).

Baca juga:  Sudah Disetujui Mendagri, DPR PB Segera Miliki Wakil Ketua IV

Dia menekankan pentingnya pemerataan distribusi guru di setiap sekolah. Menurutnya, Pemda harus menjadikan kebutuhan guru sebagai prioritas jika ingin kemajuan pendidikan bisa tercapai.

“Ini masalah serius karena jika tidak ada guru di satu sekolah, maka siswa/siswi tidak mendapatkan pembelajaran. Tentunya ini sangat menghambat kemajuan pendidikan, khususnya di sekolah-sekolah yayasan,” katanya.

Baca juga:  DPR Minta Pj Gubernur Persiapkan Rekrutmen Calon Anggota MRPB

Kondisi serupa juga terjadi di sektor kesehatan. Rudi menyebut rumah sakit di Mansel kekurangan tenaga medis, yang menurutnya menjadi masalah umum di hampir seluruh Papua Barat.

“Kesehatan ini, kan, nomor satu sesuai dengan misi Papua secara nasional, yaitu Papua Sehat. Tapi, bagaimana jika tenaga pendidik saja masih kurang?” ketusnya.

Karena itu, pihaknya mendorong agar distribusi tenaga medis dilakukan secara merata. Ia juga meminta Pemda menyeleksi dan mengirim putra-putri daerah untuk menempuh pendidikan kedokteran agar dapat kembali melayani masyarakat.

Baca juga:  DPR Papua Barat Harap Propemperda 2026 Terealisasi Tepat Waktu

Selain pendidikan dan kesehatan, Komisi II juga menerima aspirasi masyarakat di kampung nelayan Mansel soal kebutuhan infrastruktur. Warga mengeluhkan kerusakan fasilitas akibat ombak besar yang menerjang pesisir saat air pasang.

“Mereka meminta agar dibuatkan pemecah ombak sehingga ketika ombak tinggi dampaknya tidak merusak,” ucapnya.

Aspirasi tersebut, lanjutnya, akan dibawa ke pembahasan di sidang dewan dan menjadi perhatian serius untuk ditindaklanjuti pemerintah daerah. (LP14/red)

Latest articles

Kerap Timbulkan Keresahan, Masyarakat Tolak Provokasi KNPB

0
PAPUA, linkpapua.id — Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, Karmin Yikwa, mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh berbagai ajakan yang berpotensi mengganggu...

More like this

Kerap Timbulkan Keresahan, Masyarakat Tolak Provokasi KNPB

PAPUA, linkpapua.id — Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, Karmin Yikwa, mengajak masyarakat...

Realisasi TKD 72 Persen, Wabup Bintuni Minta OPD Tuntaskan Program

TELUK BINTUNI, LinkPapua.id – Wakil Bupati (Wabup) Teluk Bintuni Joko Lingara meminta organisasi perangkat...

HUT Lalu Lintas ke-71, Kapolda Papare Tekankan Polisi Harus Jadi Teladan Tertib Berlalu Lintas

MANOKWARI, Linkpapua.id– Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Lalu Lintas ke-71, jajaran Direktorat Lalu Lintas...