MANOKWARI, LinkPapua.id – Rektor Institut Ilmu Hukum dan Teknologi Pembangunan (IHTP) Filep Wamafma mengungkap perjalanan panjang kampusnya sejak berdiri pada 17 Februari 1975 hingga mengembangkan kualitas pendidikan tinggi di Papua. Dia juga memaparkan upaya peningkatan kualifikasi dosen sebagai bagian dari pengembangan institusi.
“Gedung kampus yang menjadi bagian dari sejarah perjalanan IHTP juga memiliki cerita tersendiri. Bangunan bagian depan didirikan sekitar 1986 dan kemudian mengalami renovasi, terutama pada bagian tampilan luar,” ujar Filep saat pembukaan Musyawarah Luar Biasa (Muslub) Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) di Aula IHTP, Manokwari, Selasa (27/10/2026).
Filep mengatakan bangunan bagian depan kampus tersebut masih berdiri dengan konstruksi yang dinilai kokoh meski menggunakan material kayu. Gedung itu menjadi bagian dari perjalanan IHTP yang mengalami sejumlah perubahan nama dan bentuk kelembagaan.
Sebelum berkembang menjadi institusi pendidikan tinggi mandiri, kampus tersebut dikenal sebagai Sekolah Tinggi Ilmu Hukum dan Ketatanegaraan Masyarakat. Pada masa awal, lulusannya memperoleh status sarjana hukum muda dan institusi itu sempat berada di bawah naungan program extension Makassar.
Filep juga menceritakan perjalanan kariernya di IHTP sejak menjadi mahasiswa pada 1999 hingga menyelesaikan pendidikan pada 2003. Setelah lulus, dia bekerja sebagai staf bagian umum sebelum dipercaya memimpin kampus tersebut.
Dalam menjalankan kepemimpinan, Filep menghadapi dinamika mahasiswa yang terkadang bersinggungan dengan kepentingan politik menjelang pemilu. Dia mencontohkan mahasiswa yang meminta dispensasi ujian karena terlibat sebagai tim sukses dalam momentum politik.
Selain dinamika mahasiswa, kondisi ekonomi juga menjadi tantangan bagi keberlangsungan perguruan tinggi. Meski begitu, IHTP terus mendorong peningkatan kualitas tenaga pengajar melalui pendidikan lanjutan.
Filep menyebut tujuh dosen IHTP telah menyelesaikan pendidikan doktor, termasuk Doktor Alice. Sementara itu, sembilan dosen lainnya masih menjalani pendidikan lanjutan.
Menurut Filep, peningkatan kualifikasi dosen menjadi bagian penting dalam memperbaiki mutu pendidikan tinggi di Tanah Papua. Dia berharap pengalaman panjang IHTP mendorong sivitas akademika terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menghadapi tantangan pendidikan tinggi. (LP14/red)
