JAKARTA, LinkPapua.id – Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyoroti lonjakan emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua yang mencapai lebih dari 35 megaton di wilayah Indonesia. Kekeringan akibat fenomena El Nino turut membuat kebakaran meluas di Pulau Papua sepanjang September hingga Oktober 2026.
“Ini situasi yang mengerikan,” kata peneliti NASA Goddard Institute for Space Studies dan Columbia University, Robert Field, dalam keterangannya yang diterbitkan Kamis (22/10/2026), dikutip dari laman NASA, Minggu (25/10/2026).
Data Global Fire Emissions Database (GFED) menunjukkan emisi karbon akibat karhutla di Papua bagian Indonesia telah melampaui 35 megaton. Angka itu menjadi yang tertinggi ketiga setelah 2015 dan 1997, ketika fenomena El Nino juga memicu kebakaran besar.
Sementara itu, kebakaran di Papua Nugini telah melepaskan hampir 32 megaton karbon hingga 17 Oktober 2026. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dalam catatan emisi kebakaran Papua Nugini untuk periode yang sama.
Ilmuwan kebakaran dari Wageningen University & Research, Guido van der Werf, mengatakan emisi di Papua Nugini tahun ini telah melampaui total emisi sepanjang 2015.
“Emisi sudah jauh lebih tinggi dibandingkan total sepanjang 2015, dan sangat mungkin tahun ini menjadi yang tertinggi dalam catatan Papua Nugini, bahkan melampaui 1997,” ujar Van der Werf.
NASA menjelaskan perubahan pola curah hujan akibat El Nino membuat sejumlah ekosistem di Papua mengering dan rentan terbakar. Di kawasan Trans-Fly, bagian selatan Papua Nugini, kekeringan berlangsung lebih dari 90 hari berturut-turut tanpa hujan.
Data cuaca menunjukkan sejumlah wilayah hanya menerima 5-10% dari curah hujan normal sejak Agustus. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran sekaligus memicu gagal panen, kekurangan air, dan gangguan kegiatan sekolah.
Asap kebakaran juga menyelimuti sebagian besar wilayah Papua Nugini selama berminggu-minggu. Polusi udara meningkat, penerbangan terganggu, dan sejumlah sekolah terpaksa menghentikan kegiatan belajar.
Satelit NOAA-20 dengan instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) merekam kepulan asap tebal dari bagian selatan Pulau Papua pada 11 Oktober 2026. Field menjelaskan sebagian asap dapat naik ke lapisan atmosfer lebih tinggi atau tersapu hujan saat memasuki sistem badai, tetapi sebagian besar tetap berada dekat permukaan Bumi dan memperburuk kualitas udara.
Peneliti University of California, Irvine, Yang Chen, menyebut aktivitas kebakaran tahun ini di Papua Nugini dan Indonesia bagian timur lebih tinggi dibandingkan sejumlah wilayah Indonesia bagian barat.
“Kami melihat aktivitas kebakaran yang sangat tinggi di Papua Nugini dan Indonesia Timur, khususnya Papua Indonesia dan Kalimantan, tahun ini dibandingkan Sumatra dan wilayah Indonesia Barat lainnya,” ucap Chen.
Para peneliti menyebut sebagian besar kebakaran di Papua berkaitan dengan aktivitas manusia, seperti pembakaran lahan pertanian, pemeliharaan padang penggembalaan, pembukaan hutan, dan perburuan. Ketika vegetasi mengering, api yang semula terkendali lebih mudah menyebar menjadi kebakaran yang tidak terkendali.
Selain kekeringan, NASA menyoroti perubahan penggunaan lahan dan deforestasi di Papua Indonesia. Pembukaan hutan berlangsung untuk perkebunan kelapa sawit, tanaman bahan baku bubur kertas, pertanian skala kecil, perluasan kawasan perkotaan, dan pertambangan.
Data Global Forest Watch menunjukkan Papua kehilangan sekitar 27 ribu hektare hutan primer sepanjang 2025. Luas kehilangan tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan 2024 dan menjadi yang tertinggi sejak 2017.
Para peneliti memperkirakan kebakaran masih dapat berlanjut hingga hujan lebat tiba di bagian selatan Pulau Papua. Musim hujan di kawasan tersebut biasanya mulai berlangsung pada awal November. (*/red)
