Balitbangda: Pasar Rumput Laut Wondama Sudah Terbuka

Published on

Manokwari,Linkpapuabarat.com-Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat, Charlie Heatubun mengatakan bahwa pasar rumput laut Teluk Wondama sudah terbuka.

Dia berharap hasil panen di daerah tersebut terus digenjot dengan mengoptimalkan peran petani serta luas wilayah perairan yang tersedia.

“Wilayah perairan Teluk Wondama masih sangat luas. Jika dioptimalkan kita bisa meningkatkan panen petani hingga 100 kali lipat,” kata Charlie, Senin (2/11).

Menurutnya kondisi iklim Indonesia termasuk Teluk Wondama sangat mendukung. Penanaman dan panen bisa dilakukan sepanjang tahun.

Baca juga:  Pemprov Papua Barat Bakal Kembangkan Potensi Wisata Pulau Fani

“Kita berada di wilayah Khatulistiwa dengan iklim tropis. Sepanjang tahun petani bisa tanam dan panen. Apalagi masa untuk panen rumput laut ini cuma 45 hari,” katanya lagi.

Pada Selasa pekan lalu 20 ton hasil panen rumput laut petani asli Papua di Teluk Wondama dikirim ke Surabaya. Saat ini rumput laut baru dikembangkan di sejumlah kampung yang tersebar di tiga distrik/kecamatan yakni Roon, Roswar serta Rumberpon.

Charlie berharap masyarakat pesisir di distrik lain juga mulai membudidayakan tanaman tersebut. Saat ini produksi rumput laut di daerah tersebut masih sangat kecil, sedangkan pasar sudah terbuka lebar.

Baca juga:  Logistik Pemilu Mulai Didistribusikan ke Distrik

“Kendala kita ada pada petani, belum banyak masyarakat di sana yang membudidayakan rumput laut. Mudah-mudahan setelah melihat hasilnya, yang lain tergiur dan mau memulai,” ucap Charlie lagi.

Secara keseluruhan, kata dia, produksi petani di tiga distrik ini baru berada pada kisaran 10 hingga 20 ton perpanen. Dengan luas wilayah perairan di Teluk Wondama produksi bisa ditingkatkan setidaknya mencapai 200 ton.

Baca juga:  Dominggus: Provinsi Boleh 6 di Tanah Papua, tetapi Pelayanan GKI Tetap Satu

Disisi lain, lanjut Heatubun, transportasi masih kendala dan membutuhkan perhatian serius dari sejumlah pemangku kepentingan.

“Mengingat jalur distribusi sangat berpengaruh terhadap pemberlakuan harga ditingkat petani. Biaya operasionalnya imbasnya, harga di petani tertekan,” katanya.

“Petani mendapat harga beli Rp 6 perkilo gram, sedangkan harga jual di Surabaya Rp 18 ribu. Ada kesenjangan cukup jauh karena pembeli harus menanggung seluruh biaya operasional,” sebut Charlie menambahkan. (LPB1/red)

Latest articles

Polisi Tangkap Pembunuh Alumni P2TIM Bintuni di Ambon

0
AMBON, LinkPapua.id - Tim gabungan kepolisian meringkus seorang pemuda terduga pelaku pembunuhan terhadap alumni P2TIM Teluk Bintuni, Papua Barat. Pelaku yang sempat buron dan...

More like this

Ekonomi Papua Barat Tumbuh 4,64 Persen di Triwulan I 2026

MANOKWARI, LinkPapua.id – Perekonomian Provinsi Papua Barat mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 4,64 persen pada...

Anggota DPR RI Obet Rumbruren Ingatkan Pengawasan Ketat Program MBG di Manokwari

MANOKWARI, LinkPapua.id – Anggota Komisi IX DPR RI Obet A Rumbruren meminta pengawasan ketat...

Anggota DPR RI Obet Rumbruren Ingatkan Pengelola MBG di Manokwari: Jangan Cuma Cari Untung!

MANOKWARI, LinkPapua.id – Anggota Komisi IX DPR RI Obet A Rumbruren memberikan peringatan kepada...