1 Kantong Darah di Manokwari Capai Rp500 Ribu, Pemprov Papua Barat Bicara Subsidi

Published on

MANOKWARI, LinkPapua.id – Keluhan stok darah dan layanan dokter gigi BPJS Kesehatan dibahas dalam forum Universal Health Coverage (UHC) di Manokwari, Papua Barat. Pemprov Papua Barat membuka opsi subsidi kantong darah karena biaya yang dikeluhkan memberatkan pasien.

“Sering kali masyarakat menghubungi saya karena kesulitan mendapatkan darah. Kalau ada pun biayanya mahal. Saya minta Dinas Kesehatan, jika ada APBD Perubahan, dapat mengupayakan subsidi untuk kantong darah,” ujar Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Papua Barat, Otto Parorongan, dalam forum UHC di Kantor Gubernur Papua Barat, Rabu (3/6/2026).

Baca juga:  STIKIP Muhammadiyah Manokwari Buka Pendaftaran Maba Gelombang Kedua

Persoalan ketersediaan darah sebelumnya disampaikan perwakilan Pokja Papua Sehat BP3OKP. Mereka menyebut stok kantong darah di Manokwari masih terbatas dan biayanya memberatkan pasien.

Otto mengatakan dirinya kerap menerima laporan masyarakat yang kesulitan mendapatkan darah saat kondisi darurat. Dia menyebut satu kantong darah dapat mencapai sekitar Rp500 ribu.

Menurut Otto, kebutuhan darah untuk satu pasien bisa mencapai 5 kantong. Jika dihitung, biaya yang harus ditanggung pasien bisa menembus Rp2,5 juta.

BP3OKP Pokja Papua Sehat meminta Pemprov Papua Barat melalui Dinas Kesehatan mengambil langkah konkret. Mereka meminta pemerintah menjamin ketersediaan darah bagi warga yang membutuhkan.

Baca juga:  Pemprov Papua Barat Segarkan Komitmen ASN Lewat Budaya Kerja Berakhlak

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Manokwari drg Eka Verawati mengakui persoalan darah masih menjadi tantangan pelayanan kesehatan di daerah. Dia menyebut keterbatasan stok berpotensi menghambat pelayanan medis.

Dalam forum yang sama, Sekretaris Dinas Sosial Papua Barat Irman Mandacan menyoroti pelayanan rumah sakit yang kerap memicu konflik antara pasien dan tenaga kesehatan. Dia mengaku pihaknya sering terlibat dalam aksi kemanusiaan membantu masyarakat, termasuk lansia yang membutuhkan layanan kesehatan.

Baca juga:  Gubernur Papua Barat Buka Lomba Cerdas Cermat BKMT, Serahkan Santunan Anak Yatim

Irman mengatakan masih ditemukan kasus pasien dipulangkan meski keluarga merasa kondisi pasien belum pulih. Dia meminta BPJS Kesehatan membangun komunikasi lebih intensif dengan organisasi profesi kesehatan, termasuk Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

“Ada banyak kasus pasien yang sakit belum sembuh dan masih membutuhkan perawatan, tetapi sudah dipulangkan,” ucap Irman.

Irman menilai komunikasi dengan organisasi profesi dibutuhkan untuk meminimalkan konflik dan miskomunikasi antara tenaga medis dan pasien. Namun, dia menegaskan keputusan pemulangan pasien tetap menjadi kewenangan dokter yang menangani berdasarkan penilaian medis. (LP14/red)

Latest articles

Pimpin APTISI Papua Barat, Filep Wamafma Perkuat Sinergi PTS dan Pemerintah...

0
MANOKWARI, Linkpapua.id – Filep Wamafma terpilih sebagai Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Papua Barat dalam Musyawarah Luar Biasa yang digelar Rabu (27/10/2026).Setelah...

More like this

Pimpin APTISI Papua Barat, Filep Wamafma Perkuat Sinergi PTS dan Pemerintah Daerah

MANOKWARI, Linkpapua.id – Filep Wamafma terpilih sebagai Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI)...

Polresta Manokwari Amankan Terduga Pelaku Penganiayaan WNA Belanda di Amban

MANOKWARI, Linkpapua.id-Polresta Manokwari melalui tim Gabungan Satreskrim, Sat Intelkam dan Polsek Amban berhasil mengungkap...

Rektor IHTP Ungkap Perjalanan Kampus dan Perjuangan Tingkatkan Kualitas Dosen

MANOKWARI, LinkPapua.id – Rektor Institut Ilmu Hukum dan Teknologi Pembangunan (IHTP) Filep Wamafma mengungkap...