MANOKWARI, Linkpapua.id– Mantan pejudo nasional Indonesia, Sadik Algadri, membedah buku karyanya berjudul ‘Membangun Otot di Negeri Kertas’ di Gedung Serbaguna, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (5/9).
Kegiatan tersebut turut dihadiri akademisi Rocky Gerung, wartawan senior olahraga Asro Kamal Rokan, serta Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Yunyun Yudiana sebagai pembicara.
Dalam bedah buku tersebut, Sadik mengungkapkan bahwa ‘Membangun Otot di Negeri Kertas’ lahir dari kegelisahan terhadap kondisi olahraga Indonesia.
Ia mengatakan proses penulisan buku berlangsung sekitar lima hingga enam bulan dengan melibatkan sejumlah pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan olahraga nasional.
Sadik mengatakan, salah satu hal yang melatarbelakangi penulisan buku tersebut adalah munculnya sebuah peraturan sebelum Presiden Prabowo Subianto terpilih dilantik pada 20 Oktober lalu.
Menurutnya, aturan tersebut berpotensi membahayakan olahraga secara keseluruhan dan berkaitan dengan prinsip yang terdapat dalam Olympic Charter.
“Jadi, perlu diketahui bahwa olahraga prestasi memiliki semacam garis besar atau undang-undang sendiri yang disebut Olympic Charter. Di dalamnya, secara garis besar, diatur bahwa jika pemerintah ikut campur dalam politik olahraga, apalagi sampai mengatur proses olahraga, ada konsekuensi tertentu, termasuk kemungkinan mendapatkan sanksi,” kata Sadik.
Kegelisahan terhadap kondisi tersebut kemudian dibahas bersama sejumlah pihak yang memiliki keresahan serupa.
Sadik sempat berupaya menyampaikan gagasannya melalui siniar sebelum akhirnya memilih buku sebagai medium untuk menyampaikan pandangannya.
“Kemudian saya mencoba membuat podcast. Namun, mungkin tidak ada yang mau menerima podcast yang terlalu kritis. Akhirnya, kami berpikir, ‘Sudah, kita buat buku saja,'” ujar Sadik.
Dalam proses penulisan, Sadik mendapat dukungan dari sejumlah rekannya yang memiliki pengalaman akademis dan memahami metodologi pembuatan buku.
Ia secara khusus menyebut wartawan senior olahraga Suryansyah sebagai salah satu pihak yang turut membantu proses tersebut sebagai editor bersama Asro Kamal Rokan.
“Saya juga memiliki teman-teman yang secara metodologis memiliki pengalaman sebagai dosen dan memahami proses pembuatan buku. Salah satunya adalah Pak Suryansyah yang sekarang banyak membantu,” ucapnya.
Sadik menegaskan bahwa gagasan yang dituangkan dalam bukunya tidak lahir dari kemarahan semata. Ia merasa berbagai diskusi dan proses komunikasi telah dilakukan sebelum kritik terhadap kondisi olahraga Indonesia dituangkan ke dalam buku.
“Ya, tentu. Kegelisahan itu pasti ada dasarnya. Kalau hanya marah-marah, tentu tidak masuk akal. Semua proses itu sudah kami lakukan. Kami memang orang-orang yang berada di organisasi olahraga dan memahami etika dalam olahraga. Etika itu sangat dihargai,” ujarnya.
Salah satu pembahasan yang disoroti Sadik dalam bukunya adalah peran ajang olahraga besar dalam menunjukkan perkembangan sebuah negara. Ia menjadikan Asian Games 2018 di Indonesia sebagai salah satu titik awal untuk membahas bagaimana olahraga dapat menjadi instrumen pembangunan bangsa.
Kemudian Sadik membandingkan penyelenggaraan Olimpiade di Jepang, Korea Selatan, dan China dengan perubahan yang terjadi di negara-negara tersebut. Ia menyebut ajang olahraga internasional dapat menjadi momentum untuk menunjukkan kebangkitan, keterbukaan, dan perkembangan sebuah negara kepada dunia.
“Kenapa saya mengatakan demikian? Jepang menyelenggarakan Olimpiade 1964 untuk menunjukkan bahwa mereka, meskipun kalah dalam perang, sudah menjadi negara yang siap dan mampu bangkit kembali,” katanya.
“Nah, kami berharap Asian Games 2018 di Indonesia juga bisa menjadi momentum seperti itu. Namun, setelah Asian Games 2018, bahkan memasuki 2017 dan seterusnya, kembali lagi persoalan anggaran seperti yang kita bicarakan tadi,” ia menambahkan..
Sadik menilai perhatian terhadap olahraga di Indonesia masih belum sebanding dengan potensinya sebagai bagian dari pembangunan bangsa. Ia menyoroti persoalan anggaran dan menilai olahraga masih lebih sering ditempatkan sebagai hiburan dibandingkan instrumen pembangunan.
“Padahal, di negeri-negeri lain, itu adalah tuntunan. Bahkan, olahraga dapat mengangkat martabat bangsa dan membangun peradaban,” katanya.
Sadik juga membandingkan perkembangan olahraga Indonesia dengan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Ia mempertanyakan kondisi Indonesia ketika negara-negara yang sebelumnya banyak belajar dari Indonesia justru mampu berkembang lebih jauh.
“Kalau semuanya mau disebutkan, saya pikir dari diskusi ini Anda bisa menyimpulkan sendiri bahwa memang ada hal-hal tertentu yang harus diperbaiki. Kenapa kita kalah dari negara-negara Asia lainnya?” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sadik tidak secara spesifik menyebut aturan yang menjadi salah satu pemicu kegelisahannya. Ia memilih menyampaikan pesan yang lebih luas mengenai pentingnya keberanian melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap olahraga Indonesia.
“Kalau soal aturan itu, saya tidak akan menyebutkannya secara spesifik. Yang jelas, para pemangku jabatan harus menyadari bahwa olahraga itu bukan sekadar olahraga,” ujarnya.
Sadik berharap buku ‘Membangun Otot di Negeri Kertas’ tidak berhenti sebagai karya yang mengkritisi persoalan olahraga. Ia ingin buku tersebut mendorong perubahan sekaligus membuka keberanian untuk mengakui berbagai persoalan yang masih terjadi.
“Ya, seperti yang saya sampaikan tadi, harapan besarnya adalah adanya perubahan. Kita harus berani menyatakan dan berani mengakui,” tuturnya..
“Pertama, kalau kita mau marah, kita harus mengakui terlebih dahulu bahwa ada kesalahan. Setelah mengakui, baru kita berani menyatakan, ‘Ya, ini kita salah.'”
“Setelah itu, kita maju. Kita bisa berubah. That’s it. Berpikirnya harus jernih, tetapi mengerjakannya belum tentu mudah.”(LP3/Red)













