MANOKWARI, LinkPapua.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat menegaskan paradigma baru dalam pelayanan kesehatan pada peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61. Fokus pembangunan kesehatan kini bukan lagi mengobati orang sakit, tetapi menjaga masyarakat agar tetap sehat.
“Fokus kita tidak lagi mengobati orang sakit, namun menjaga orang yang sehat. Layanan kesehatan harus mudah, berkualitas, dan terjangkau karena kualitas kesehatan hari ini menentukan masa depan,” ujar Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Papua Barat, Marthen L Kocu, saat memimpin upacara HKN di RSUP Papua Barat, Rabu (12/11/2025).
Marthen menyebut, tahun 2025 menjadi momentum penting bagi Papua Barat dalam memperkuat transformasi kesehatan. Sebanyak 32 dari 66 fokus kesehatan disebut telah berjalan sesuai target.
Dia menjelaskan, enam pilar transformasi kesehatan menunjukkan hasil konkret dari kerja keras tenaga medis di lapangan. Pilar pertama yakni transformasi layanan primer, telah diterapkan di 8.349 puskesmas.
Prevalensi stunting balita juga menurun di bawah 20 persen. Selain itu, 324.380 tenaga kesehatan telah mendapatkan pelatihan 25 keterampilan dasar sebagai bagian dari peningkatan kompetensi.
Pada pilar kedua, transformasi layanan rujukan telah memperkuat kapasitas rumah sakit di 514 kabupaten dan kota. Sebanyak 29 provinsi kini sudah mampu melakukan bedah jantung terbuka dan clipping, sedangkan 8 provinsi bisa menangani kasus stroke dengan tindakan stamca bypass.
Pilar ketiga mencakup transformasi sistem ketahanan kesehatan. Sebanyak 10 dari 14 antigen vaksin imunisasi, 10 bahan baku obat, dan 9 dari 10 alat kesehatan kini sudah diproduksi di dalam negeri.
Selanjutnya, pilar keempat yakni transformasi pembiayaan kesehatan mencatat kemajuan signifikan. Sebanyak 268 juta penduduk atau 98 persen telah dijangkau oleh JKN, sementara porsi asuransi dalam belanja kesehatan terus meningkat.
Pada pilar kelima, transformasi SDM kesehatan juga menunjukkan kemajuan. Sebanyak 61 persen puskesmas kini memiliki 9 jenis tenaga kesehatan, dan 74 RSUD telah dilengkapi dengan 7 dokter spesialis dasar.
Kemudian, pilar keenam berfokus pada transformasi teknologi kesehatan. Aplikasi Satu Sehat Mobile (SSM) telah diverifikasi dengan 6,1 juta pengguna, dan sebagian besar fasilitas kesehatan telah memasukkan datanya ke sistem tersebut.
Program pengembangan kedokteran presisi melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI) juga telah melibatkan 17.909 peserta di seluruh Indonesia. Pemerintah berharap inovasi ini mempercepat peningkatan kualitas layanan berbasis data dan teknologi.
“Yang terpenting yaitu tranformasi kesehatan tidak dapat tercapai tanpa budaya kerja para insan kesehatan. Perjalanan menuju Indonesia merupakan perjalanan panjang, menantang, dan penuh harapan, maka dibutuhkan tekad dan kerja sama untuk mewujudkan generasi sehat di masa depan,” katanya. (LP14/red)
