MANOKWARI, LinkPapua.id – Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di tanah Papua menyerukan gerakan pertobatan menyeluruh untuk menjawab berbagai krisis kemanusiaan yang tengah melanda Bumi Cenderawasih. Peringatan HUT ke-171 Pekabaran Injil (PI) kali ini menjadi momentum bagi gereja untuk bersuara lantang terhadap realitas Papua yang dinilai sedang tidak baik-baik saja.
“Tahun ini, HUT Pekabaran Injil dirayakan dengan tema Pertobatan Mendatangkan Keselamatan. Tema ini mengajak kita bukan hanya mengenang karya Allah di masa lalu, tetapi juga menilai diri dan realitas Papua hari ini yang sedang tidak baik-baik saja,” ujar perwakilan Badan Pekerja Sinode GKI Wilayah 6 Pdt Albert Rumaropen di Pulau Mansinam, Manokwari, Kamis (5/2/2026).
Pdt Albert menyoroti rentetan persoalan serius yang masih menyelimuti Papua, mulai dari konflik bersenjata hingga nasib pengungsi. Trauma anak-anak yang kehilangan rasa aman dan eksploitasi alam yang masif turut menjadi kegelisahan mendalam pihak gereja.
“Pertobatan bukan hanya soal relasi pribadi dengan Tuhan, tetapi keberanian mengubah cara hidup, cara berpikir, dan cara memperlakukan sesama serta alam ciptaan. Ini adalah pertobatan yang menyeluruh,” tegasnya.
Pihak Sinode menekankan lima panggilan pertobatan, termasuk pertobatan sosial yang berpihak pada kaum miskin dan tertindas. Gereja diminta berani menyuarakan ketidakadilan tanpa harus terjebak dalam pusaran politik praktis.
“Gereja harus berani mengatakan tidak terhadap segala bentuk eksploitasi alam dan perampasan tanah adat. Merawat ciptaan adalah mandat iman dan tanggung jawab generasi,” kata dia.
Pdt Albert juga mengingatkan agar gereja tidak bersekongkol dengan kekuasaan yang melakukan penindasan. GKI di Tanah Papua berkomitmen untuk tetap setia pada panggilan kenabian dengan melindungi mereka yang lemah.
“Pekabaran Injil di tanah Papua bukan hanya milik orang Papua, tetapi menjadi kesaksian bagi Indonesia dan dunia bahwa Allah bekerja melalui gereja-Nya untuk menghadirkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan,” ucapnya.
Refleksi 171 tahun ini diharapkan melahirkan perubahan nyata dalam aspek sosial, budaya, dan ekologi. Seluruh umat diajak untuk menjadikan Injil sebagai kekuatan yang membebaskan dan menyelamatkan di tengah krisis global. (LP14/red)
