MANOKWARI, LinkPapua.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Barat mencapai 373 titik api yang tersebar di tujuh kabupaten. Kabupaten Fakfak menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar berdasarkan data pemerintah daerah.
“Sebanyak 373 titik api menyebar di tujuh kabupaten di Provinsi Papua Barat,” ujar Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Papua Barat Jimmy W Susanto dalam rapat penanganan karhutla di Kantor Gubernur Papua Barat, Manokwari, Senin (24/8/2026).
Berdasarkan data per 31 Juli 2026, luasan karhutla di Fakfak mencapai 2.171,35 hektare. Kebakaran terbesar berada di wilayah Bomberai, Tomage, dan Boktoir.
Sementara itu, karhutla di Teluk Bintuni tercatat seluas 223,51 hektare. Kemudian Manokwari Selatan 34,35 hektare, Pegunungan Arfak 33,61 hektare dan Manokwari 33,54 hektare.
Dari sebaran indikatif karhutla 2026, sebagian besar kebakaran di Fakfak berada pada kawasan areal penggunaan lain (APL). Kebakaran juga tercatat di kawasan hutan produksi seluas 363,70 hektare, hutan produksi yang dapat dikonversi 229,25 hektare, hutan lindung 36,51 hektare dan hutan produksi terbatas 308,40 hektare.
Jimmy menjelaskan sekitar 62 persen luas kebakaran di Papua Barat pada 2026 terjadi di kawasan APL berdasarkan sumber data Direktorat. Sisanya berada di kawasan hutan produksi dan hutan lindung.
Menurut dia, kebakaran di kawasan APL sebagian besar diduga berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan menggunakan metode pembakaran. Kondisi kemarau dan pengaruh El Nino dinilai meningkatkan risiko api meluas.
“Lebih banyak disebabkan oleh pembukaan lahan dengan cara membakar. Dampak El Nino menyebabkan rumput kering. Api yang diciptakan dapat memicu kebakaran lebih luas, dan angin juga membantu penyebaran api,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi meluasnya karhutla, Pemprov Papua Barat menerbitkan Surat Edaran Gubernur Papua Barat Nomor 100.3.4.1 tanggal 26 Juli 2026. Surat edaran itu mengatur kesiapsiagaan karhutla 2026 serta antisipasi potensi El Nino 2027.
Surat edaran tersebut telah disampaikan kepada seluruh bupati di Papua Barat. Jajaran kepolisian dan TNI juga menerima edaran tersebut untuk memperkuat kesiapsiagaan lintas sektor.
Dinas Kehutanan Papua Barat turut melakukan sosialisasi dengan membagikan selebaran di sejumlah terminal penumpang di Manokwari dan pos di Momi Waren. Patroli karhutla juga dilakukan di Kabupaten Manokwari Selatan.
Petugas melakukan pemadaman terhadap titik api yang ditemukan di sekitar ruas jalan. Namun, penanganan masih terkendala akses menuju lokasi kebakaran yang berada di kawasan pegunungan.
“Kendalanya keterbatasan akses ke daerah gunung yang tidak ada akses jalan, kemudian keterbatasan sarana prasarana dan penganggaran,” katanya.
Jimmy menambahkan laporan kebakaran diperoleh dari berbagai sumber, termasuk masyarakat dan petugas di daerah. Sebagian kejadian diduga berkaitan dengan aktivitas pembakaran, sedangkan sebagian lainnya dapat dipengaruhi faktor alam.
Selain itu, pemerintah mendorong pembentukan satuan tugas (satgas) penanganan karhutla yang melibatkan berbagai instansi, termasuk kepolisian. Satgas tersebut diharapkan mempercepat pemantauan, pelaporan dan penanganan setiap kejadian kebakaran.
Dengan kondisi kemarau dan pengaruh El Nino yang masih berlangsung, Dinas Kehutanan Papua Barat meminta pencegahan terus diperkuat. Aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar juga perlu dihindari karena berpotensi memicu kebakaran lebih luas. (LP14/red)
