MANOKWARI, LinkPapua.id – Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan berpesan agar konferensi gereja tidak sekadar menjadi ritual tahunan yang bersifat seremonial. Gereja dituntut melakukan evaluasi agar kehadirannya benar-benar menjadi solusi nyata bagi keluarga Papua yang tengah dihimpit berbagai persoalan sosial.
Pernyataan itu disampaikan Dominggus saat membuka Konferensi Majelis Umum GPKAI se-Indonesia di Prafi, Manokwari, Jumat (2/1/2026). Dia menegaskan gereja harus berani keluar dari zona nyaman ruang ibadah untuk menyentuh langsung akar permasalahan di tengah masyarakat.
“Evaluasi apa yang sudah dikerjakan dan apa yang gagal. Sesuaikan dengan kemampuan dan tanggung jawab bersama, termasuk dengan pemerintah. Gereja tidak boleh lepas tangan dari penderitaan umat,” ujarnya.
“Konferensi ini harus hadir untuk menyelamatkan keluarga. Kalau gereja hanya berdoa tanpa tindakan, maka persoalan keluarga akan terus kita wariskan,” lanjutnya.
Dominggus menyoroti lunturnya otoritas orang tua hingga maraknya pengaruh minuman keras yang merusak tatanan keluarga. Sebagai Kepala Suku Besar Arfak, dia meminta seluruh elemen masyarakat meruntuhkan tembok eksklusivisme yang memicu sekat-sekat sosial.
“Saya bicara sebagai Gubernur Papua Barat dan sebagai Kepala Suku Besar Arfak. Semua suku, semua orang yang tinggal di tanah ini adalah satu keluarga besar. Jangan bangun tembok di antara kita,” ucapnya.
Dia juga memperingatkan warga agar tidak mudah terprovokasi hingga melakukan aksi main hakim sendiri yang justru memperdalam luka sosial. Menurutnya, koordinasi dengan tokoh adat dan pemuka agama adalah kunci dalam meredam setiap potensi konflik.
“Kalau ada masalah, jangan main hakim sendiri. Duduk bersama kepala kampung, tokoh adat, tokoh gereja, kepala suku. Kalau tidak, kita sendiri yang membuat anak-anak takut sekolah dan orang sakit takut berobat,” pesannya.
Mantan Bupati Manokwari ini juga mengajak jemaat merenungkan kembali sejarah besar masuknya Injil di Pulau Mansinam pada 1855 silam. Baginya, perilaku negatif seperti konflik dan mabuk-mabukan adalah bentuk nyata pengkhianatan terhadap sejarah peradaban Papua.
“Dari doa pertama di Mansinam, Papua keluar dari kegelapan. Kalau hari ini kita kembali ke konflik, mabuk-mabukan, dan saling curiga, itu berarti kita sedang mengkhianati sejarah kita sendiri,” pungkasnya. (LP14/red)
