25.9 C
Manokwari
Kamis, Februari 19, 2026
25.9 C
Manokwari
More

    LP3BH Kritik Jaksa Agung Soal Pelanggaran HAM Paniai: Jangan Sesumbar!

    Published on

    MANOKWARI, Linkpapua.com – Lembaga Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari mengkritisi sikap Jaksa Agung soal kelanjutan kasus dugaan pelanggaran HAM di Paniai. LP3BH mengingatkan Jaksa Agung agar tak terlalu cepat “sesumbar”.

    “Saya mengingatkan Jaksa Agung dan jajarannya sebagai penyelidik perkara dugaan pelanggaran HAM yang berat agar tidak cepat ‘sesumbar’ di media massa bahwa pihaknya sudah periksa 37 saksi kasus pelanggaran HAM berat Paniai. Karena rakyat Papua hingga hari ini masih berada pada posisi sebagai korban kasus pelanggaran HAM Berat yang diduga keras pelakunya adalah negara Indonesia,” ujar Direktur Eksekutif LP3BH, Yan Christian Warinussy, Kamis (10/2/2022).

    Baca juga:  Yohanis-Joko Jalani Gladi Kotor di Monas, Minta Doa Masyarakat Bintuni

    Menurut Warinussy, terduga pelaku di lapangan diduga keras adalah personel anggota TNI dan Polri yang bertugas di wilayah konflik di Tanah Papua. Itu telah terjadi semenjak integrasi Tanah dan Negeri Papua menjadi bagian dari Negara Republik Indonesia tahun 1963 hingga saat ini.

    “Jadi kalau baru 37 orang dan mereka adalah anggota polisi yang bertugas di Polsek Paniai Timur saja itu menurut saya belum cukup untuk menemukan bukti dan atau petunjuk ada tidaknya dugaan pelanggaran HAM berat. Akan lain pengertiannya, jika penyidik dari Kejaksaan Agung RI telah memeriksa anggota-anggota Paskhas TNI AU yang bertugas di Enarotali saat itu,” paparnya.

    Baca juga:  LP3BH Soal Marinus Bonepay Ditetapkan Tersangka: Silakan Ajukan Pra-peradilan

    Sebab, untuk bisa memeriksa mereka anggota Paskhas TNI AU, penyidik Kejaksaan Agung RI harus memperoleh izin lebih dahulu dari Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa.

    “Kalau ini bisa dilakukan baru berita namanya. Karena dugaan keras mengarah dari hasil investigasi organisasi masyarakat sipil di Tanah Papua, termasuk Komnas HAM RI waktu itu. Lamanya kasus dugaan pelanggaran HAM Paniai sejak 2008 terjadi dan baru sekarang mulai disidik cukup meninggalkan 1001 pertanyaan di benak keluarga korban dan rakyat Papua serta dunia internasional,” ketus Warimussy.

    Baca juga:  Sejumlah Ketua DPC Gerindra di Papua Barat Minta Lakotani Diganti

    Warinussy justru mendesak Presiden Joko Widodo untuk memberi tekanan politik kepada Jaksa Agung RI ST Burhanuddin untuk tidak banyak buat pernyataan di media massa tanpa adanya kerja nyata yang maksimal dalam upaya mengungkapkan kasus dugaan pelanggaran HAM berat Paniai.

    Kata dia, masih ada dua kasus dugaan pelanggaran HAM berat di Tanah Papua lainnya yang masih menantikan kerja nyata Kejaksaan Agung RI. Yakni kasus Wasior (2001) dan Wamena (2003). (LP2/Red) 

    Latest articles

    Ditpolairud Polda Papua Barat Bersama Masyarakat Gelar Aksi Bersih Pantai

    0
    MANOKWARI, Linkpapua.id– Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara Polda Papua Barat (Ditpolairud) melaksanakan kegiatan bersih-bersih bersama Komunitas Anak Air Manokwari. Kegiatan yang digelar  di kawasan...

    More like this

    Ditpolairud Polda Papua Barat Bersama Masyarakat Gelar Aksi Bersih Pantai

    MANOKWARI, Linkpapua.id– Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara Polda Papua Barat (Ditpolairud) melaksanakan kegiatan bersih-bersih...

    Pemprov Papua Barat Godok Perdasus untuk Lindungi Satwa Endemik

    MANOKWARI, LinkPapua.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat tengah menggodok penyusunan Peraturan Daerah (Perda)...

    Kanguru Pohon-Kuskus Diselundupkan, Gubernur Papua Barat: Bongkar Kelemahannya!

    MANOKWARI, LinkPapua.id - Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan memerintahkan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD)...