MANOKWARI, LinkPapua.id– Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan menegaskan kerukunan antarumat beragama menjadi fondasi utama pembangunan berkelanjutan di Papua Barat. Dia menilai keberagaman suku, agama, dan budaya harus dijaga sebagai kekuatan untuk mempercepat kemajuan daerah.
“Kerukunan dan kedamaian adalah prasyarat utama bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Papua Barat. Karena itu, pemerintah akan terus mendukung setiap inisiatif yang memperkuat kerukunan antarumat beragama,” kata Dominggus saat menghadiri Kopi Toleransi Volume 3 bertema Merajut Harmoni dalam Toleransi di Aula Universitas Papua (Unipa), Manokwari, Sabtu (18/7/2026).
Dominggus mengatakan Papua Barat selama ini dikenal menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap perbedaan. Dia menilai keberagaman bukan penghalang, melainkan modal sosial yang harus terus dirawat.

Selain itu, Dominggus mengapresiasi Vihara Buddha Prabha Manokwari, Keluarga Buddhayana Indonesia, dan seluruh panitia penyelenggara Kopi Toleransi Volume 3. Dia menyebut kegiatan tersebut menjadi ruang dialog lintas agama untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat nilai toleransi.
“Kehadiran para narasumber lintas agama menjadi bukti bahwa dialog dapat dibangun tanpa memandang latar belakang keyakinan. Semangat seperti ini harus terus dipelihara,” tuturnya.
Kegiatan itu menghadirkan Ustaz Das’ad Latif, Bhante Dhirapunno Thera, dan Ponijan Liaw sebagai special host. Acara juga dihadiri pimpinan Universitas Papua, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, mahasiswa, dan berbagai unsur masyarakat.
Dominggus menambahkan generasi muda, khususnya mahasiswa, harus menjadi pelopor dalam menjaga kerukunan. Menurutnya, toleransi tidak cukup menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata di keluarga, tempat ibadah, kampus, hingga ruang publik.
Dia mengungkapkan Papua Barat pernah menerima Harmony Awards dari Kementerian Agama pada 2021. Menurutnya, penghargaan itu menjadi bukti komitmen pemerintah daerah dalam menjaga harmoni sebagai modal utama pembangunan.
Sementara itu, ketua panitia Kopi Toleransi Volume 3 UP Supriadi Marthaen melaporkan penyelenggaraan kegiatan didukung dana sebesar Rp224 juta dari para donatur. Dana tersebut digunakan untuk mendukung seluruh rangkaian pelaksanaan kegiatan.
“Kami mengapresiasi seluruh donatur dan semua pihak yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.
Supriadi berharap Kopi Toleransi terus menjadi wadah mempererat persaudaraan antarumat beragama di Papua Barat. Dia juga berharap semangat toleransi terus terjaga melalui kegiatan serupa. (LP14/red)









