MANOKWARI, LinkPapua.id – Kontingen Provinsi Papua tampil memukau pada kategori musik gereja nusantara (MGN) di Pesparawi Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat. Di balik penampilan tersebut, tim membawa foto pelatih utama yang meninggal dunia dua pekan sebelum perlombaan sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangannya.
“Itu foto yang dibawa adalah almarhum pelatih utama yang meninggal dunia dua minggu sebelum Pesparawi ini. Namun, puji Tuhan kami bisa mendapatkan pelatih baru yang melanjutkan perjuangan teman-teman,” ujar ketua kontingen Kabupaten Biak Numfor, Judi Wanma, saat ditemui usai penampilan di Aula Utama Universitas Papua (Unipa), Sabtu (27/6/2026).
Menurut Judi, penampilan peserta memadukan rasa sukacita dan duka atas kepergian sosok pelatih yang membentuk kemampuan tim. Dia menyebut kehilangan tersebut tidak mengurangi semangat peserta untuk memberikan penampilan terbaik.

“Kami sangat berduka atas kepergian Mas Bambang selaku pelatih yang telah membangun dan mendidik tim ini,” katanya.
Judi menjelaskan persiapan kategori MGN telah dilakukan selama kurang lebih satu tahun. Intensitas latihan kemudian ditingkatkan dalam tiga bulan terakhir untuk mematangkan penampilan menuju kompetisi nasional.
Kontingen Papua membawakan kolaborasi musik gereja bernuansa budaya lokal. Lagu pertama mengangkat unsur musik dari Kepulauan Kei, sedangkan lagu kedua berasal dari tradisi budaya Biak.
“Persiapan kami cukup panjang. Untuk kategori MGN, latihan sudah dilakukan selama satu tahun dan tiga bulan terakhir dilakukan secara lebih intens,” ungkapnya.
Pada Pesparawi Nasional XIV, Papua mengikuti seluruh 12 kategori yang diperlombakan. Sementara Kabupaten Biak Numfor dipercaya mewakili enam kategori dengan total 153 personel.
Judi mengapresiasi panitia yang dinilainya berhasil menyelenggarakan Pesparawi Nasional XIV untuk pertama kalinya di tanah Papua. Menurutnya, pelaksanaan kegiatan tersebut membuktikan Papua mampu menjadi tuan rumah ajang berskala nasional.
“Pesparawi Nasional XIV di Manokwari menjadi kehormatan bagi kami karena ini pertama kalinya dilaksanakan di tanah Papua. Ini juga menjadi tolak ukur bahwa kegiatan nasional dapat dilaksanakan dengan baik di Papua,” tuturnya.
Judi juga mengapresiasi dukungan panitia melalui penyediaan penginapan, transportasi, hingga pendampingan orang tua angkat. Dia menilai seluruh fasilitas tersebut membantu kontingen menjalani rangkaian kegiatan selama di Manokwari.
“Kami sangat berterima kasih kepada seluruh panitia atas pelayanan dan fasilitas yang diberikan. Mulai dari penginapan, transportasi hingga dukungan orang tua angkat, semuanya berjalan dengan baik,” ucapnya.
Menurut Judi, kehadiran orang tua angkat sangat membantu kontingen Papua selama berada di Manokwari. Dukungan itu diberikan mulai dari sesi latihan hingga pelaksanaan perlombaan. (LP14/red)









