26.7 C
Manokwari
Selasa, Februari 10, 2026
26.7 C
Manokwari
More

    Dokter Yoslianto Sarampang; Sepenggal Kisah Mencerdaskan Anak Bangsa di Tanah Sisar Matiti

    Published on

    BINTUNI, Linkpapua.com – Seorang tenaga kesehatan, dr. Yoslianto Sarampang, dan sepasang suami istri, Pdt. Ratna Dewi Dachi dan Ronald Frendly Matulessy, dari Distrik Weriagar, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat, membuka kelas belajar mengajar di luar jam Sekolah. Berikut kisah mereka mencerdaskan anak bangsa di tengah kesibukan aktivitas sosial kemasyarakatan.

    Bersama rekan lainnya, mereka merupakan ujung tombak penggerak pertama kalinya yang berupaya mendorong kemajuan dan pentingnya dunia pendidikan di Distrik Werigar.

    Tidak hanya soal ilmu pengetahuan yang wajib harus mereka pelajari seperti halnya di sekolah, tetapi lebih kepada pendidikan moral guna membangun karakter anak bangsa yang kuat dan hebat serta mengajarkan nilai-nilai etika atau tata krama dalam kehidupan ditengah bermasyarakat.

    “Ini kami lakukan atas niat, inisiatif, dan motivasi akan kerinduan kami pada tempat ini. Guna menanamkan nilai-nilai etika. Inilah yang jadi garis besar inti alasan kelas belajar kami bentuk,” tutur dr. Yoslianto, salah satu tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Weriagar, Kamis (11/8/2022).

    Baca juga:  Tak Khawatir Biaya, Warga Manokwari Sembuh dari Malaria Berkat Program JKN

    Menurutnya, kelas belajar mengajar sudah diniatkan sejak 2-3 tahun lalu. Namun, karena satu dan lain hal akhirnya komitmen baru bisa berjalan pada 7 Juli 2022. Kelas belajar yang dibentuk berlokasi di rumah Pdt. Ratna Dewi Dachi dan suaminya Ronald Frendly Matulessy. Selain itu, rumah dinas dr. Yoslianto.

    Dokter Yoslianto mengungkapkan inisiatif juga berawal dari perjumpaan serta nasihat dari Pdt. Ratna. Pdt. Ratna beserta dengan suaminya Ronald merupakan tokoh di bidang keagamaan yang aktif melayani di Gereja Kristen Injili (GKI) Ekklesia Weriagar.

    Dokter Yoslianto mengaku hal ini dilakukan semata-mata untuk membantu anak-anak di Distrik Weriagar yang mengalami kendala atau kesulitan akan baca tulis serta berbahasa Inggris.

    “Kami berdua aktif bekerja di pusat fasilitas layanan kesehatan masyarakat atau puskesmas di Distrik Weriagar,” ucap dr. Yoslianto.

    Kelas belajar dibuka dalam dua kelas, yakni kelas baca tulis bagi anak-anak yang belum mahir membaca serta menulis. Jadwal belajarnya tiap hari, bahkan saat libur. Dibagi dua sesi pertemuan, pagi dan sore. Sementara, untuk kelas berbahasa Inggris bagi semua anak-anak jadwalnya rutin tiap hari Sabtu sore.

    Baca juga:  Pengerjaan Dermaga Sumuri Mangkrak, Dishub Sebut Bisa Selesai Tahun Ini

    “Untuk kelas baca tulis sendiri dilatih atau diajari oleh Ibu Pendeta dan suaminya. Sedangkan, kelas berbahasa Inggris dilatih atau diajari oleh saya sendiri dibantu oleh teman saya, Miftahul Jannah dan Hasmiati,” jelasnya.

    Meski dengan berbagai kendala, termasuk minimnya fasilitas, seperti papan tulis dan alat peraga, dr. Yoslianto berkomitmen untuk terus menjalankan kelas belajar ini.

    “Semangat kami akan kerinduan ini tidak akan pernah padam sekalipun dengan keterbatasan yang ada. Dengan keterbatasan itulah kami senantiasa berupaya dan berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik,” ucapnya.

    Dilihat dari sudut pandang profesi, mereka bukanlah tenaga pengajar atau pendidik layaknya seorang guru. Namun, bakat dan talenta yang memanggil untuk menggerakkan hati nurani untuk melayani dengan membuka kelas belajar.

    Baca juga:  Cerita Audi Ayomi, Nelayan dari Tandia yang Putranya jadi Anggota Polri

    Bagi dr. Yoslianto, ilmu pengetahuan dan pengembangan karakter ibarat alam yang terbentang luas yang harus digapai oleh generasi anak bangsa, terkhusus di Distrik Weriagar.

    “Kami pengajar hanya sebagai penunjuk jalan terbaik. Anak-anak generasi emas di Weriagar inilah yang akan kami bawa dan arahkan bermoral hebat yang beretika serta kelak dapat dibanggakan orang tua bahkan bangsa,” harap pria yang telah selama kurang lebih empat tahun bertugas di Distrik Weriagar.

    Dokter Yoslianto menilai Teluk Bintuni punya potensi luar biasa. Namun, dirinya menilai perlu ada perhatian khusus di sektor pendidikan maupun kesehatan.

    “Ini adalah permulaan dan bukanlah akhir. Kami tidak akan berhenti dan jemu, namun akan senantiasa bersemangat dan berusaha untuk tetap terus konsisten di sela kesibukan keseharian kami masing-masing demi perubahan yang hebat bagi Tanah Sisar Matiti, terkhusus Distrik Weriagar,” tuturnya.

    Bagi dr. Yoslianto, sebaik-baiknya manusia ialah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. (LP5/Red)

    Latest articles

    Buka Manasik Haji Terintegrasi Digelar, Wabup Mugiyono Doakan Raih Haji Mabrur

    0
    MANOKWARI, Linkpapua.id-Pemerintah Kabupaten Manokwari bersama Kementerian Haji dan Umrah menyelenggarakan Manasik Haji Terintegrasi Kabupaten/Kota dan Kecamatan Tahun 1447 Hijriah/2025 Masehi bagi jemaah calon haji...

    More like this

    Anggota DPR RI Cheroline Sosialisasi 4 Pilar ke Pelajar Manokwari, Tekankan Cegah Bullying

    MANOKWARI, LinkPapua.id - Anggota DPR RI Cheroline Chrisye Makalew menekankan pencegahan bullying saat menyosialisasikan...

    Proyek Makan Minum SMA Taruna Rp11 Miliar di Manokwari Diduga Tanpa Lelang

    MANOKWARI, LinkPapua.id - Anggaran makan minum SMA Taruna Kasuari Nusantara Papua Barat menjadi sorotan...

    HUT Pekabaran Injil, GKI Serukan Pertobatan untuk Jawab Krisis Kemanusiaan di Papua

    MANOKWARI, LinkPapua.id - Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di tanah Papua menyerukan gerakan pertobatan...