27.3 C
Manokwari
Senin, Februari 9, 2026
27.3 C
Manokwari
More

    BPBD Papua Barat Singgung Alih Fungsi Lahan Pemicu Banjir-Longsor

    Published on

    MANOKWARI, LinkPapua.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Barat menyebut alih fungsi lahan menjadi salah satu faktor utama yang memperbesar risiko banjir dan longsor di sejumlah wilayah. Pemerintah provinsi menilai ketidaktertiban pembangunan di kawasan rawan menjadi ancaman serius jelang puncak musim hujan.

    “Secara khusus kami mengingatkan penggunaan lahan untuk permukiman di kawasan Gunung Soribo harus diperhatikan. Izin bangunan harus jelas. Bangunan yang berdiri tanpa izin, terutama di kawasan resapan air dan lereng rawan longsor, perlu ditertibkan. Kalau tidak punya izin ya harus dibongkar,” ujar Kepala BPBD Papua Barat, Derek Ampnir, Sabtu (29/11/2025).

    Baca juga:  Musda I TBM Manokwari, Lamek Dowansiba: Forum TBM Manokwari Diharapkan jadi Ruang Pengabdian

    Derek mengatakan banyak wilayah Papua Barat berada dalam kondisi rentan akibat perubahan tata guna lahan. Dia menilai kerentanan tersebut diperparah oleh pembangunan yang tidak terkendali.

    Sejumlah titik yang menjadi sorotan pemerintah provinsi ialah kawasan Wosi Dalam, jalur Jalan Baru, hutan Soribo, hingga permukiman baru di lereng pegunungan. Pola pembangunan yang bergerak naik ke lereng dinilai meningkatkan ancaman bagi warga di hilir.

    Kawasan tersebut merupakan daerah resapan air yang sensitif terhadap perubahan fungsi lahan. Namun, bangunan baru tetap bermunculan tanpa izin yang memadai.

    Baca juga:  Hati-Hati Provokasi, Lakotani Ajak Masyarakat Jaga Kamtibmas

    “Kami sudah mengingatkan berkali-kali bahwa ini area rawan. Kalau tetap dipaksa bangun tanpa izin, itu berbahaya,” tuturnya.

    Derek menyebut BMKG dan BNPB telah mengirimkan peringatan resmi terkait potensi curah hujan tinggi hingga awal tahun. Dia menekankan peringatan itu harus ditindaklanjuti pemerintah kabupaten dengan langkah nyata.

    “Kabupaten harus menindaklanjuti. Jangan sampai peringatan BMKG dan BNPB hanya jadi dokumen tanpa langkah konkret,” katanya.

    Baca juga:  DPRK Manokwari Kebut 19 Ranperda Tahun ini, Ada Soal Miras

    Papua Barat diproyeksikan mengalami hujan intens mulai akhir November hingga April. Kondisi ini membuat daerah rawan seperti Teluk Wondama, Pegunungan Arfak, Teluk Bintuni, dan Manokwari berada dalam risiko banjir dan longsor yang lebih besar.

    Dia menegaskan risiko tersebut akan meningkat jika tata ruang tidak segera ditertibkan dan pengawasan izin bangunan diperketat. Pengendalian penggunaan lahan dinilai kunci dalam meminimalkan dampak bencana.

    “Jika tata guna lahan tidak dikendalikan, bencana bukan hanya soal cuaca, tapi juga soal kesalahan manusia,” ucapnya. (LP14/red)

    Latest articles

    SK Terbit, Pelantikan Waka III DPRP Papua Barat Tunggu Agenda Gubernur

    0
    MANOKWARI, LinkPapua.id - Surat keputusan (SK) pelantikan Wakil Ketua (Waka) III DPRP Papua Barat dari jalur Otonomi Khusus (Otsus) telah terbit. Namun, proses pelantikan...

    More like this

    SK Terbit, Pelantikan Waka III DPRP Papua Barat Tunggu Agenda Gubernur

    MANOKWARI, LinkPapua.id - Surat keputusan (SK) pelantikan Wakil Ketua (Waka) III DPRP Papua Barat...

    HPN 2026, Ketua DPRP Papua Barat Apresiasi Kinerja Insan Pers

    MANOKWARI, LinkPapua.id - Ketua DPRP Papua Barat Orgenes Wonggor mengapresiasi kinerja insan pers yang...

    Aktif di Bidang Olahraga, Bupati Tanah Laut Sabet Anugerah SIWO Award

    SERANG, Linkpapua.id - Bupati Tanah Laut, H Rahmat Trianto, menerima penghargaan SIWO Award dalam...