MANOKWARI, LinkPapua.id – Pdt Victor Rembeth menegaskan pesan abadi penginjil asal Belanda, Izaak Samuel Kijne, agar masyarakat Papua bangkit dan mandiri menghadapi berbagai tantangan, termasuk bencana alam. Pesan itu disampaikannya jelang perayaan satu abad Nubuatan Kijne yang akan digelar di Wondama, Sabtu (25/10/2025).
“Salah satu nubuat yang layak untuk diingat, dari beberapa yang ia katakan sebagaimana dikutip oleh tokoh suku Arfak Obet Ayok adalah, ‘Sekalipun orang datang dengan kepandaian dan hikmat ke tanah Papua tapi mereka tidak bisa merubah bangsa ini kecuali bangsa ini bangkit dan membangun dirinya sendiri,’” ujar Victor, Kamis (23/10/2025).
Victor menyebut nubuatan itu diucapkan Kijne di Wasior pada 25 Oktober 1925. Ia menilai pesan itu masih relevan dalam mendorong semangat masyarakat Papua menghadapi tantangan zaman dan risiko bencana.
“Sebagai pendidik, ini adalah dorongan yang menjadi pemecut bagi anak-anak Papua saat itu dan ke depan menghadapi persoalan dan tantangan, sekaligus kesempatan yang mereka hadapi,” katanya.
Victor menjelaskan, Kijne bukan hanya penginjil, tapi juga pendidik yang membawa kesadaran budaya dan semangat membangun kemandirian di tanah Papua. Ia melayani di Papua hingga 1948 sebelum kembali ke Belanda dan wafat pada 1970.
Menurutnya, pesan Kijne agar Papua bangkit dan membangun dirinya sendiri juga berkaitan dengan ketangguhan menghadapi bencana. Ia menilai tanah Papua yang kaya anugerah Tuhan juga memiliki risiko bencana tinggi yang harus dihadapi dengan bijak.
“Bencana sejatinya melibatkan peran manusia, yang kerap mengabaikan ancaman yang sudah ada dengan sedikit atau tidaknya menggunakan kebijakan, institusi pemerintahan, sumber daya yang ada, dan komunitas lokal yang dapat mengurangi risiko ancaman alam yang ada,” tuturnya.
Victor menyebut, peristiwa banjir bandang Wasior tahun 2010 dan bencana Pegunungan Arfak 2025 menunjukkan pentingnya peran manusia dalam mengelola alam. Ia menegaskan nubuatan Kijne menjadi sangat relevan karena mendorong lahirnya pemimpin yang tangguh dan bijak.
“Para pemimpin, baik dalam pemerintahan, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan agama sangat memegang peranan penting untuk menghadirkan Tanah Papua yang tangguh,” ucapnya.
Ia menambahkan, masyarakat Papua bisa mengurangi risiko bencana jika pemimpinnya menjalankan peran secara terintegrasi. Kepemimpinan spiritual dan formal, kata dia, harus berjalan seiring untuk membangun ketangguhan di seluruh tanah Papua.
Victor juga menekankan pentingnya peran gereja dalam literasi kebencanaan. Gereja, menurutnya, menjadi bagian penting dalam kehidupan spiritual dan kultural masyarakat Papua serta tonggak utama membangun ketangguhan.
“Sudah tentu selain Gereja, Negara yang memiliki fungsi sebagai ‘Duty bearer’ atau pelaksana tanggung jawab menjaga keberlanjutan tanah Papua dalam mengurangi risiko bencana,” sebutnya.
Ia menilai pemerintah daerah juga memiliki peran besar lewat kebijakan dan penganggaran yang berpihak pada mitigasi bencana. Peraturan daerah, kata dia, harus menjamin rasa aman bagi seluruh masyarakat Papua.
Victor menambahkan, pesan Kijne agar bangsa ini bangkit dan membangun dirinya sendiri juga bermakna agar para pemimpin berhikmat dan cerdas menghadapi ancaman. Menurutnya, warisan Kijne melalui pusaka Injil dan kearifan lokal menjadi sumber kekuatan masyarakat Papua.
“Mereka adalah penjaga tanah yang meninggikan budaya setempat melampaui segala kepentingan politik dan ekonomi. Dalam banyak hal, narasi pengurangan risiko bencana para tokoh adat cukup efektif yang mengutamakan kearifan turunan sejak nenek moyang menempati tanah dan air yang mereka hidupi,” paparnya.
Victor berharap semua pihak bertanggung jawab melanjutkan nubuatan Kijne dengan semangat inklusif dan kepemimpinan yang takut akan Tuhan. Ia menegaskan bahwa ketangguhan Papua adalah tanggung jawab bersama seluruh umat manusia.
“Sebagaimana Kijne orang Belanda masuk ke tanah Papua, maka Tuhan juga bisa menghadirkan berbagai suku dan bangsa lain ke Tanah Papua untuk mengupayakan ketangguhan menghadapi bencana. Kita bisa bekerja bersama membangun ketangguhan,” tutupnya. (LP14/red)















