MANOKWARI, LinkPapua.id – Polemik penolakan operasional Travel Transnusa oleh sopir Hilux rute Manokwari-Bintuni berakhir usai dimediasi Dinas Perhubungan Papua Barat. Kedua pihak sepakat beroperasi dengan sejumlah pembatasan yang ditetapkan pemerintah daerah.
“Awalnya kedua pihak saling menolak, tetapi setelah difasilitasi, sekarang sudah saling menerima dengan beberapa kesepakatan,” kata Plt Kepala Dishub Papua Barat Markus Lukas Sabarofek kepada wartawan, Jumat (23/1/2026).
Sabarofek menegaskan pemerintah tidak bisa menghambat masuknya pelaku usaha transportasi baru selama memenuhi aturan. Dia menyebut keterbukaan dan digitalisasi menuntut pelayanan angkutan yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Kita ini pelayan masyarakat, maka harus memberikan kemudahan bagi siapa pun yang datang dan berinvestasi, sepanjang izin dan aturannya lengkap,” ujarnya.
Dia mengakui sopir Hilux rute Manokwari-Bintuni telah lama beroperasi dan menjadi bagian dari sejarah transportasi daerah. Namun, dinamika angkutan selalu berkembang seiring peningkatan infrastruktur dan aksesibilitas.
“Dulu tidak ada Hilux, lalu ada Hilux dan sopir beralih. Sekarang infrastruktur semakin baik, maka wajar jika ada transportasi baru yang masuk,” jelasnya.
Dalam kesepakatan tersebut, operasional Travel Transnusa dibatasi hanya tiga kali sepekan. Jadwalnya ditetapkan setiap Selasa, Kamis, dan Jumat dengan tarif disamakan dengan angkutan Hilux serta maksimal lima penumpang.
Selain itu, pemerintah menyepakati tidak ada penambahan armada baru di rute Manokwari-Bintuni untuk sementara waktu. Kebijakan ini diambil guna menjaga keseimbangan usaha dan mencegah gesekan di lapangan.
Dishub Papua Barat juga melibatkan Polda Papua Barat dan Brimob dalam proses penanganan konflik. Langkah ini dilakukan untuk memastikan situasi tetap kondusif dan aktivitas masyarakat tidak terganggu.
Pasca kesepakatan, Dishub berkoordinasi dengan Direktorat Lalu Lintas Polda Papua Barat terkait penertiban operasional angkutan. Ke depan, Travel Transnusa diarahkan masuk melalui Terminal Wosi agar pelayanan transportasi lebih tertata.
Diberitakan sebelumnya, sopir Hilux rute Manokwari-Teluk Bintuni, Papua Barat, menggelar aksi mogok massal di kawasan Gunung Botak, Kabupaten Manokwari Selatan. Aksi ini dipicu oleh penolakan terhadap kehadiran perusahaan Travel Transnusa yang dinilai mengancam mata pencaharian ratusan sopir lokal yang sudah puluhan tahun beroperasi.
“Kami melakukan ini karena diduga pemerintah mengizinkan travel yang beroperasi di Manokwari-Bintuni,” kata ketua komunitas Hilux jalur Manokwari-Bintuni, Nofti Tapilatu, Minggu (11/1).
Para sopir berkumpul di pertengahan jalan antara Manokwari Selatan dan Teluk Bintuni. Aksi mogok ini rencananya akan terus berlangsung hingga Selasa (13/1) sebagai bentuk protes kepada pemerintah.
“Kami tolak kehadiran Travel Transnusa di jalur ini. 30 tahun kami beroperasi di jalur ini telah memberikan sumber penghidupan bagi ratusan warga lokal,” tegas Nofti. (LP14/red)








